Senin, Agustus 17, 2015

Kurir wanita ini jadi saksi Pertempuran Kemit di Gombong

Reporter : Siti Nur Azzura
Pahlawan wanita. ©2015 Merdeka.com
 Merdeka.com - Para pejuang bukan hanya orang-orang yang terjun langsung dalam suatu pertempuran, namun juga mereka yang turut membantu memperjuangkan kemerdekaan meski dengan melakukan hal-hal kecil. Bahkan dari hal kecil itu, bisa membawa perubahan yang besar.

Seperti yang dialami oleh Soepia Subito, seorang nenek yang pernah menjadi kurir wanita saat Pertempuran Kemit di Gombong, Jawa Tengah. Meski saat itu Soepia masih berusia 14 tahun, namun dia tetap berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Pada tahun 1947, Soepia mengikuti jejak kakaknya yang merupakan seorang kepala persenjataan di pasukan tentara republik. Sebagai kurir, dia bertugas mengantarkan surat dari komando pasukan ke tentara republik yang berada di wilayah kekuasaan Belanda.

"Kami jadi kurir dari daerah republik ke daerah Belanda, Belanda ke republik. Jadi setiap nyebrang di perbatasan ya digeledah. Ini udah perbatasan, kalau tentara kita mau gerilya saya disuruh bawa surat dari komando militer ke Gombong ke saudara yang ada di daerah Belanda. Mereka nanya gerilya lewat mana yang Belanda engga patroli ke daerah itu," kata Soepia saat perayaan Hari Veteran Nasional di gedung Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta Selatan, Selasa (11/8).

Agar lolos dari pemeriksaan, Soepia harus berpura-pura sebagai rakyat biasa yang hanya ingin melewati perbatasan untuk berjualan. Sementara itu, surat yang dia bawa akan disimpan rapi di bawah kaki rinjing bambu agar tidak terlihat oleh tentara Belanda.

"Saat masuk ke perbatasan pura-pura jual telur, jual kelapa. Nanti pulang pura-pura beli beras atau apa. Penampilannya seperti rakyat biasa," jelasnya.

Selain itu, wanita kelahiran Maret 1933 ini juga bertugas mengisi ulang persenjataan untuk para tentara saat pertempuran. Bahkan dia juga sering mengantarkan makanan dari markas kesatuan yang terletak di gunung, ke garis depan yang ada di perkampungan di daerah Kemit.

Sayangnya, Soepia tidak mendapat perbekalan ilmu untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Sehingga dia benar-benar harus mencari jalan sendiri ketika bertemu dengan musuh.

Jika ada pertempuran, Soepia hanya bisa tiarap agar tidak menjadi sasaran peluru. Sehingga dia harus melihat sendiri rakyat dan tentara yang gugur di medan perang.

"Belanda kan punya senjata sambil patroli ke kampung. Kalau mereka ketemu Belanda ya ditembak. kami kalau ada patroli itu hanya tiarap. Yang saya sedih itu waktu pasar candi, dari atas di bom, dari jauh ditembaki, tentara banyak yang mati, rakyat juga banyak yang mati dan saya lihat jenazah-jenazah itu," imbuh nenek usia 82 tahun itu.

Kini, Soepia tengah aktif menyebarkan semangat juang para wanita dari berbagai yayasan. "Kegiatan setiap hari saya banyak sekali di lokalisasi-lokalisasi, PKK dan biarawati. Di pelatihan pejuang 45 yang gedungnya di Gedung Joeang. Saya juga gabung ke veteran. Kami di biarawati juga masuk ke wanita pejuang tapi sekarang udah jadi yayasan," imbuhnya.

Dia berpesan, agar masyarakat Indonesia, terutama generasi muda bisa meneruskan semangat para pejuang untuk meraih kemerdekaan, salah satunya bebas dari korupsi dan narkoba. Sebab, hal itu akan merusak mental dan moral bangsa.

"Dulu kami yang berjuang tanpa ada keinginan apa-apa kecuali menang. Tapi para koruptor yang udah enak tapi malah merugikan bangsa," ungkapnya dengan mata yang berkaca-kaca

Minggu, Juli 05, 2015

Belajar Jujur dari Hoegeng

KOMPAS/Hendranto


JAKARTA, KOMPAS - Belajar dari masa lalu. Peristiwa itu terjadi tahun 1969. Sudah 46 tahun lalu! Harian Kompas, 2 Juli 1969, mengutip instruksi Kepala Kepolisian Negara RI Komisaris Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Bertepatan dengan Hari Bhayangkara, Kapolri Hoegeng memerintahkan kepala polda untuk mendaftarkan kekayaan semua unsur pimpinan Komando Keamanan Pelabuhan sebelum ataupun sesudah melakukan tugas pelabuhan.
Jika Hoegeng masih hidup, mungkin dia menangis melihat situasi saat ini. Seperti dituturkan dalam buku Hoegeng, Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa, Hoegeng pernah menulis memo kepada Kapolri Jenderal (Pol) Widodo Budidarmo pada 1977. Hoegeng menulis, "Wid, sekarang ini kok polisi kaya raya. Sampai-sampai ada yang punya rumah di Kemang. Dari mana duitnya?" "Sebagai mantan Kapolri, saya benar-benar prihatin dan malu dengan adanya kasus ini."
Sebagai sosok polisi yang jujur dan bersih serta menghindari konflik kepentingan, Hoegeng pernah meminta Merry, istrinya, menutup toko bunga yang baru dirintis. Hoegeng tak ingin ada konflik kepentingan. Sebagaimana ditulis Suhartono dalam buku Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan (2013), Hoegeng tidak ingin memanfaatkan posisi, kekuasaan, dan jabatannya sebagai Dirjen Imigrasi. Saat pemilik rumah sewaan tak mau dibayar rumah sewaannya, Hoegeng membayarnya dengan wesel pos.
Menurut cerita Aditya Soetanto Hoegeng (Didit), putra kedua Hoegeng, seperti dikisahkan dalam buku karya Suhartono, Hoegeng tidak pernah mau menerima gratifikasi dalam bentuk apa pun. "Saat melakukan kunjungan ke daerah, kadapol selalu memberikan bingkisan berupa makanan atau buah-buahan. Bingkisan itu sudah diletakkan di pesawat sebelum Papi naik. Namun, saat Papi melihat bingkisan itu, ia turun lagi dan meminta bingkisan itu diturunkan. Papi tak mau terbang sebelum barang tersebut disingkirkan dari pesawat," tutur Didit.
Instruksi Hoegeng yang mewajibkan pejabat menyerahkan laporan kekayaan 46 tahun lalu itu baru terwujud secara formal setelah era Reformasi melalui Tap MPR No XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN serta UU tentang Tindak Pidana Korupsi. Namun, Tap MPR dan UU itu pun sering dilanggar secara terbuka. Bahkan, ada pejabat yang berani terang-terangan menolak mengisi laporan kekayaan itu.
Betapa visionernya Hoegeng untuk mencegah korupsi di Indonesia. Ide pelaporan kekayaan bagi kepolisian datang dari Hoegeng sebagai instrumen untuk mencegah korupsi. Tajuk Rencana Kompas, 16 Juli 2004, menulis, "Benar Akan Berantas KKN? Belajarlah dari Hoegeng".
Ya, Hoegeng memang sosok jujur, bersih, berkarakter. Kapolri periode 1968-1971 itu pernah berkata, "Selesaikan tugas dengan kejujuran karena kita masih bisa makan dengan garam."
Karier Hoegeng, polisi yang jujur, bersih, dan punya prinsip itu, berakhir ketika dia mengundurkan diri sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971. Dia ditawari Presiden Soeharto untuk menjadi duta besar di Swedia ataupun Belgia, Belanda, dan Luksemburg. Namun, tawaran itu ditolak Hoegeng.
"Papimu ini seorang polisi dan harusnya ditugaskan sebagai polisi saja, bukan dubes. Untuk menjadi dubes harus seorang diplomat," ujar Didit menceritakan alasannya.
Kehidupan memang sudah berubah, tetapi kejujuran Hoegeng adalah sesuatu nilai yang seharusnya universal.
* Artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Juli 2015 dengan judul "Belajar Jujur dari Hoegeng".


Editor : Laksono Hari Wiwoho
Sumber: Harian Kompas

Selasa, Juni 02, 2015

Logo Garuda Pancasila diciptakan eks jenderal tentara Belanda

Reporter : Ramadhian Fadillah
Sultan Hamid II. ©2013 Merdeka.com
 Merdeka.com - Pancasila diagung-agungkan sebagai dasar negara Indonesia. Lambang burung Garuda dipasang di setiap ruang kelas dan institusi resmi. Tapi nama pembuat lambang Garuda Pancasila seolah dilupakan. Hanya segelintir orang yang mengenal Sutan Hamid Algadrie atau Sultan Hamid II sebagai pembuatnya. Hamid II malah lebih dikenal sebagai pemberontak.

Siapa Sultan Hamid II?

Sosoknya ganteng, tegap dan perlente. Di darahnya mengalir darah ningrat Kesultanan Pontianak. Dia satu dari sedikit orang pribumi yang bisa lulus Akademi Militer Belanda di Breda. Sultan Syarif Hamid Alqadri dilahirkan 12 Juli 1913. Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadri, Sultan keenam Pontianak.

Walau terlahir dari Kesultanan Islam, kehidupan Hamid Alqadri sepertinya lebih ke-Eropa-eropaan. Dia sempat masuk Technische Hooge School (THS). Tetapi dia akhirnya lebih memilih menjadi perwira tentara Belanda yang disebut Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Hamid muda memutuskan masuk ke Koninklijke Militaire Academie di Breda. Dia mengaku sangat tertarik dengan kehidupan militer.

Setelah lulus, Hamid menjadi Letnan II. Hamid juga menikah dengan wanita Belanda bernama Marie van Delden. Wanita yang dikenal dengan nama Dina Van Delden ini putri Kapten seorang tentara Belanda.

Masuknya Jepang, menghancurkan kekuatan Belanda di Nusantara. Hamid yang sempat berperang di Balikpapan ini kemudian dijebloskan Jepang ke penjara di Batavia. Dia ditahan dari tahun 1942-1945. Baru bebas setelah Jepang dikalahkan sekutu.

Hamid kembali menjadi tentara Belanda. Pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel, kemudian Jenderal Mayor. Mungkin dia pribumi dengan pangkat militer tertinggi. Tapi akhirnya dia melepaskan diri dari dinas militer dan memimpin rakyat Pontianak.

Diakui Hamid, sebuah keputusan yang berat meninggalkan dunia ketentaraan. Apalagi dia diangkat menjadi ajudan istimewa Ratu Belanda Wilhelmina.

Kemudian Sultan Hamid menjadi Ketua Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO). Forum negara-negara federal di Indonesia. Banyak pihak yang menganggap BFO adalah boneka Belanda, walau pendapat ini tak selamanya benar.

Saat Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, Hamid diangkat Soekarno untuk menjadi menteri negara. Tugasnya menyediakan gedung dan menciptakan lambang negara.

Hamid menyerahkan rancangannya. Wujud seorang manusia yang berkepala Garuda dan menggenggam perisai Pancasila. Itulah desain awal Pancasila. Soekarno kemudian memberikan beberapa usul, manusia Garuda diubah sepenuhnya menjadi burung garuda. Tapi saat itu burung garuda masih 'gundul' dan tidak berjambul.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut. Beberapa yang diperbaiki antara lain penambahan jambul pada kepala Garuda Pancasila. Selain itu mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita.

Banyak yang menduga Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat.

Karir politik Hamid sendiri berakhir tak lama berselang. Dia bersekutu dengan Westerling untuk menyerang sidang kabinet di Pejambon. Hamid memerintahkan Westerling membunuh menteri pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX , Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang dan Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo.

Percobaan pembunuhan itu gagal. Sultan Hamengkubuwono IX menangkap Sultan Hamid II. Dia diadili tahun 1953. Pembelaan dirinya ditolak. Pengadilan mengganjarnya dengan hukuman 10 tahun penjara atas kesalahan menggerakkan pemberontakan.

Nama Hamid pun dikenal sebagai pemberontak. Begitu yang tertulis di buku-buku sejarah. Jasanya menciptakan burung Garuda seolah dilupakan.

Kamis, April 23, 2015

Ini pidato lengkap Jokowi di KAA, sindir PBB hingga Bank Dunia

Jokowi di KTT Asia Afrika. ©2015 Merdeka.com
Merdeka.com - Pidato Presiden Joko Widodo saat membuka Konferensi Asia Afrika menyoroti kondisi global yang tidak seimbang. Jokowi menyinggung status Palestina yang hingga kini masih dijajah, peran Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang tidak berdaya, hingga ekonomi dunia yang dikuasai lembaga seperti Bank Dunia dan IMF.

Jokowi mengajak negara-negara di kawasan Asia dan Afrika mempererat kerja sama dan menciptakan tatanan dunia baru yang berdasarkan keadilan dan kesetaraan.

Berikut pidato lengkap Presiden Jokowi di depan para pemimpin negara Asia Afrika saat membuka KAA di Jakarta Convention Center, Rabu (22/4).

60 Tahun lalu, bapak bangsa kami, Presiden Soekarno, Bung Karno mencetuskan gagasan tersebut demi membangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia Afrika mendapatkan hak hidup yang menentang ketidakadilan, menentang imperialisme. 60 tahun lalu solidaritas kita perjuangkan untuk memberi keadilan bagi rakyat kita itulah semangat gelora KAA 1955. Itulah esensi dari semangat Dasa Sila Bandung

Kini 60 tahun kemudian kita bertemu kembali di negeri ini di Indonesia dengan suasana berbeda, bangsa-bangsa telah merdeka namun perjuangan kita belum selesai. Dunia yang kita warisi ini masih sarat dengan ketidakadilan dan kesenjangan. Cita-cita bersama mengenai tatanan dunia baru yang berdasarkan keadilan, kesetaraan masih jauh.

Ketidakseimbangan global masih terpampang. Ketika negara kaya yang hanya sekitar 20 persen penduduk dunia, mengkonsumsi sekitar 70 persen sumber daya dunia, maka ketidakseimbangan global tidak dapat dihindari.

Ketika banyak orang di belahan dunia sebelah utara (negara maju) menikmati hidup mewah, sementara 1,2 miliar negara di wilayah selatan (negara berkembang) hidup dalam kemiskinan dengan penghasilan kurang dari 2 dolar per hari, maka ketidakadilan global menjadi jelas.

Di saat sekelompok negara kaya mengatakan bisa mengubah dunia dengan niatnya sendiri, maka ketidakseimbangan global telah menghancurkan kita semua. semantara makin kuat terlihat bahwa PBB tidak bisa melakukan apa-apa.

Aksi-aksi kekerasan tanpa mandat PBB, telah memperlihatkan bahwa mengabaikan keberadaan organisasi internasional itu. Untuk itu kita sebagai negara Asia Afrika, mendesak dilakukannya reformasi PBB agar berfungsi sebagai organisasi dunia yang mendorong keadilan bagi sesemua bangsa.

Bagi saya ketidakseimbangan global semakin menyesakkan dada. Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina. Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina. Kita tidak boleh berpaling dari penderitan rakyat Palestina. Kita harus mendukung sebuah negara Palestina yang merdeka.

Ketidakadilan global juga tampak jelas ketika seklompok negara menolak perubahan realitas yang ada. Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya dapat diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF, dan ADB adalah pandangan yang usang dan perlu dibuang.

Saya berpendirian pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa diserahkan pada tiga lembaga keuangan itu. Kita mendesak reformasi arsitektur keuangan global. Saat ini butuh pimpinan global yang kolektif dan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru yang bangkit sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di muka bumi dan Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga di dunia siap memainkan peran global. Indonesia siap bekerjasama dengan berbagai pihak mewujudkan cita-cita itu.

Hari ini dan hari esok kita hadir di Jakarta menjawab ketidakadilan dan ketidakseimbangan itu. Hari ini dan hari esok dunia menanti langkah-langkah kita berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, kita bisa melakukan itu semua dengan membumikan semangat Bandung dengan mengacu pada tiga cita-cita.

Pertama kesejahteraan, kita harus mempererat kerjasama menghapuskan kemiskinan, mengembangankan kesehatan dan memperluas lapangan kerja. Kedua, solidaritas, kita harus tumbuh dan maju bersama dengan membangun kerjasama ekonomi, membantu menghubungkan konektivitas.

Ketiga, stabilitas internal dan eksternal kepada hak-hak asasi manusia. Kita harus bertanya apa yang salah dengan kita. Kita harus bekerjasa sama atasi ancaman kekerasan, pertikaian dan radikalisme seperti ISIS. Kita harus nyatakan perang terhadap narkoba yang menghancurkan masa depan anak-anak kita. OKI dan Indonesia memprakarsai pertemuan informal organisasi kerjasama Islam. Kita juga harus bekerja keras menciptakan.

Kita menuntut sengketa antarnegara tidak diselesaikan dengan penggunaan kekuatan dan kita rumuskan cara penyelesaiannya dalam sidang KAA ini.

Melalui forum ini saya ingin sampaikan keyakinan saya bahwa masa depan dunia ada di sekitar equator, di tangan kita bangsa Asia Afrika yang ada di dua benua.

Dengan mengucap Bismilahirrahmanirrahim, Konferensi Asia Afrika tahun 2015 dibuka.

Minggu, April 05, 2015

Begini Gaya Sukarno Muda, Suka Berhutang Makan

TEMPO.CO, Bandung - Sepulang kuliah teknik di kampus yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung, Sukarno kerap mampir ke Rumah Makan Madrawi di Jalan Dalem Kaum, Bandung. Di sana ia bersantap siang menu kesukaannya, seperti soto dan sate ayam 10 tusuk, gule serta rawon. Setelah makan, ia pulang dan meninggalkan hutang setalen atau 25 sen.

Itu salah satu kebiasaan Sukarno muda, yang kelak menjadi pemimpin dan Presiden pertama Republik Indonesia. Pemilik Rumah Makan Madrawi, kakak beradik Madrawi dan Badjuri tak resah. "Besoknya (hutang) langsung dibayar, jadi 50 sen," kata penerus restoran itu, Fadli Badjuri, 108 tahun, kepada Tempo.

Sekitar tengah hari, kata Fadli, karibnya itu sering datang untuk makan siang. Sepeda tunggangannya yang bermerek Hercules warna hijau, diparkir dekat jendela. Ia lalu mengambil tempat favoritnya, duduk di sudut kanan dekat jendela dari pintu masuk. Sukarno ke Bandung untuk kuliah pada 1920 dan lulus sebagai arsitek.

Rumah makan itu juga jadi tempat favorit Sukarno dan aktivis pergerakan seperti Sarekat Islam untuk rapat dan diskusi."Tempat kumpul membahas politik dan negara merdeka itu berada di ruangan khusus, di tengah agak ke belakang, bersekat lemari kaca. "Yang rapat biasanya 10-15 orang," kata Fadli, kelahiran 13 Maret 1907.

Saat itu, Fadli yang berusia belasan, seringnya hanya melayani Sukarno. Badjuri ayahnya, yang suka berbincang sebagainya sesama aktivis pergerakan. Sesekali Fadli berbincang sebentar dengan Sukarno. Pernah ia menyampaikan pemikirannya ke Fadli, "Orang-orang di luar kulit putih dianggap buta huruf, terutama orang Afrika," kata Sukarno muda.

Ketika Sukarno ditahan di penjara Jalan Banceuy pada 1929 dengan tuduhan ingin melawan pemerintah Belanda lewat Partai Nasional Indonesia, Fadli bersama Inggit Garnasih rutin mengantarkan makan siang Sukarno. Untuk makan malam, Fadli sendiri yang berangkat karena berbahaya buat Inggit.

Tokoh lain yang datang dan makan di Madrawi seperti Oto Iskandar Dinata, Mohamad Yamin, Roeslan Abdoelgani, Ali Sastroamodjojo, serta Muso, dan Kartosuwiryo. Rumah makan legendaris berukuran 15 x 20 meter persegi yang buka dari pukul 8 pagi hingga kadang pukul 3 dinihari itu kini tinggal sejarah.

Fadli menutup tempat usahanya pada 1987 ketika lahannya yang berstatus tanah wakaf milik Masjid Agung, dipakai untuk perluasan tempat ibadah. Lokasinya sekarang menjadi pelataran samping masjid di depan pos Satuan Polisi Pamong Praja Jalan Dalem Kaum.

ANWAR SISWADI

Jumat, April 03, 2015

Mobil kepresidenan Soekarno ternyata hasil curian

Reporter : Ramadhian Fadillah

Merdeka.com - Mobil dinas kepresidenan yang dipakai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah mobil Mercedes-Benz S600L model W221. Mobil keluaran tahun 2008 ini tahan peluru, canggih dan amat nyaman digunakan.

Bagaimana dengan mobil kepresidenan pertama yang digunakan Presiden RI pertama, Soekarno? Ternyata malah mobil curian!

Ceritanya saat itu Republik Indonesia baru diproklamasikan. Tapi belum ada mobil kepresidenan untuk Soekarno. Masa iya, Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia harus jalan kaki kemana-mana?

"Para pengikutku yang setia menganggap sudah seharusnya seorang presiden memiliki sebuah sedan mewah. Karena itu mereka mengusahakannya. Sudiro mengetahui ada sebuah Buick besar muat tujuh orang yang merupakan mobil paling bagus di Jakarta. Dengan gorden di jendela belakang."

"Sayang mobil ini milik Kepala Jawatan Kereta Api, seorang Jepang. Tetapi soal begini tidaklah membuat pusing Sudiro. Tanpa kuketahui, dia pergi mencari mobil itu dan menemukannya sedang diparkir di sebuah garasi," ujar Soekarno dalam biografi 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' yang ditulis Cindy Adams.

Sudiro yang mengenal supir itu langsung meminta sang supir menyerahkan kunci mobil Buick mewah tersebut. Sopir itu bertanya akan diapakan mobil tersebut.

"Saya bermaksud memberikannya kepada Presiden kita," balas Sudiro.

Sopir muda itu pun mengangguk setuju. Dia menyerahkan kunci mobil majikannya pada Sudiro. Sopir ini pun kemudian disuruh Sudiro pulang kampung agar tidak dicari majikannya.

Mobil sudah ada. Kunci pun sudah ada. Namun masalah belum selesai, Sudiro ternyata tak bisa menyetir mobil. Zaman itu memang sangat sedikit pribumi yang bisa menyetir mobil.

"Hanya beberapa di antara kami yang bisa. Orang pribumi tidak memiliki kendaraan di zaman Belanda dan hanya para pejabat yang diizinkan di zaman Jepang. Syukurlah, dengan pertolongan kawan Sudiro yang lain, seorang sopir pembesar Jepang, akhirnya mobil itu sampai ke rumahnya yang baru, di halaman belakang rumahku," jelas Soekarno.
[ian]

Senin, Februari 23, 2015

Kisah Supersemar dan Soekarno ngamuk di Istana Bogor

Reporter : Rahmat Hidayat
soekarno. ©2013 Merdeka.com
 Merdeka.com - Di balik kemegahannya, Istana Bogor menyimpan sejarah yang dramatis tentang sebuah perpindahan kekuasaan. Turunnya Surat Perintah 11 Maret atau yang dikenal dengan Supersemar menjadi titik balik berkuasanya Soeharto menggantikan Soekarno. Ada tiga jenderal yang ikut berperan mendalangi turunnya Supersemar. Siapa saja tiga jenderal tersebut? Bagaimana kisah dramatis yang terjadi di Istana Bogor waktu itu?

Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, waktu menunjukkan pukul 13.00 di Istana Bogor. Terdengar deru helikopter mendarat di lapangan istana. Ternyata tiga orang jenderal angkatan darat (AD) datang untuk menemui Soekarno. Ada yang mengatakan mereka datang mengendarai jeep yang dikemudikan oleh Brigjen Muhammad Jusuf yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Dua jenderal lainnya, yaitu Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi) dan Brigjen Amir Mahmud (Panglima Kodam Jaya).

Soekarno sedang istirahat saat trio jenderal datang. Hari itu memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Tidak seperti biasanya, dia datang ke Istana Bogor lebih awal. Soekarno pergi meninggalkan rapat kabinet di Jakarta menuju Bogor dengan tergesa-gesa. Brigjen Saboer, pengawal dan ajudan kepercayaan Soekarno, melaporkan adanya kericuhan dan pasukan liar mendekati istana. Padahal sebelumnya, Amir Mahmud yang dipercaya untuk mengamankan rapat, melaporkan situasi dalam kondisi aman.

Kejadian tersebut yang memunculkan inisiatif dari Basuki Rachmat dan Jusuf untuk menemui Soekarno di Bogor. Meskipun kedua menteri ini hadir dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, tapi mereka tidak tahu menahu mengenai laporan berbeda hingga memunculkan ketegangan antara Saboer dan Amir Mahmud. Sebelum berangkat ke Bogor, trio jenderal sempat menemui Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Waktu itu Soeharto yang telah diangkat Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, sedang dalam kondisi sakit. Soeharto kemudian mengizinkan ketiganya untuk menemui Soekarno dan menitipkan pesan, Saya bersedia memikul tanggungjawab apabila kewenangan untuk itu diberikan kepada saya untuk melaksanakan stabilitas keamanan dan politik berdasarkan Tritura.

Di balik kedatangan tiga jenderal itu ternyata ada maksud lain. Mereka meminta Soekarno agar memberikan kewenangan penuh kepada Soeharto untuk mengamankan kondisi negara. Berdasarkan pengakuan Lettu Sukardjo, pengawal presiden yang berjaga waktu itu, suasana nampak tegang. Antara tiga jenderal dan Soekarno terlibat adu argumen tentang isi surat kewenangan yang akan diberikan kepada Soeharto. Bahkan Sukardjo mengatakan sempat terjadi todong-todongan senjata antara dirinya dan trio jenderal.

Karena berbagai desakan yang muncul, akhirnya Soekarno menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Berbekal SP 11 Maret, Soeharto setapak melangkah lebih depan menuju kekuasaan. Dia tampil sebagai pahlawan kesaktian Pancasila yang telah membasmi bahaya komunis dari Tanah Air. Maka setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.

Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno. Salah satu dari trio jenderal itu diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.

Di balik itu semua, Istana Bogor telah menjadi saksi berbagai sejarah yang akan terekam di dinding-dinding bangunan megah itu sepanjang masa. Istana yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang singgah atau sekadar melihat rusa-rusa cantik di sana. Istana yang dibangun bukan hanya sebagai penghias kota Bogor. Tapi ia sebuah bangunan yang harusnya menyadarkan kita agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia.

Rabu, Januari 14, 2015

Soedirman, panglima teguh bermantel lusuh

Reporter : Ramadhian Fadillah Merdeka.com
Suatu malam di belantara Jawa tahun 1949. Soedirman terbatuk-batuk sepanjang malam dalam sebuah pondok reot di tengah hutan. Mantel lusuhnya tidak mampu menahan udara dingin malam itu. Paru-parunya terus digerus penyakit TBC yang makin parah. Di luar pondok, berjaga belasan pengawal Soedirman. Mereka tahu saat ini sang panglima menjadi buruan nomor satu pasukan baret merah Belanda, Korps Speciale Troepen (KST). Nyawa Soedirman dalam bahaya besar.

Tak ada pengawal Soedirman yang tidak meneteskan air mata. Betapa teguh hati jenderal bermantel lusuh yang sakit-sakitan itu.

Soedirman lahir tahun 1916 di Desa Bantarbarang, Purbalingga, Jawa Tengah. Awalnya Soedirman adalah guru di sekolah Muhammadiyah. Dia kemudian mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Soedirman menjadi Daidancho atau Komandan Batalyon di Kroya. Setelah kemerdekaan, Soedirman mendapat pangkat kolonel dan memimpin Divisi Y. Dia membawahi enam resimen di Jatiwangi, Cirebon, Tegal, Purwokerto, Purworedjo dan Cilacap.
Nama Soedirman bersinar saat pertempuran di Ambarawa. Dalam pertempuran yang terjadi tahun 1945 itu, Soedirman dan pasukannya berhasil memukul pasukan Inggris. Dalam sidang tentara, Soedirman kemudian terpilih menjadi panglima TNI. Soedirman memikul tanggung jawab besar. Mempertahankan kemerdekaan RI dari kemungkinan ancaman agresi militer Belanda.

Agresi Militer Balanda II tanggal 19 Desember 1948 sukses menduduki Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia. Gabungan pasukan baret hijau dan baret merah Belanda merebut Yogya hanya dalam hitungan jam. Mereka pun menangkap para pimpinan republik. Soekarno, Hatta, Sjahrir dan hampir seluruh pejabat negara saat itu.

Tapi Soedirman tidak mau menyerah. Dia menolak permintaan Soekarno untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Saat itu ada perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan pemimpin militer. Soedirman memilih masuk hutan. Memimpin pasukannya dari belantara hutan dan mengorbankan perlawanan semesta sesuai perintah siasat nomor satu. Soedirman memerintahkan seluruh prajurit TNI untuk membentuk kantong-kantong gerilya. Mundur dari daerah perkotaan yang dikuasai Belanda dan bersiap untuk bergerilya dalam waktu yang panjang.

Dimulailah perjalanan legenda itu. Panglima tertinggi TNI dengan paru-paru sebelah, dan tubuh sempoyongan bergerilya keluar masuk hutan. Mengorganisir anak buahnya dan membuktikan TNI masih ada. Ibukota negara boleh jatuh, presiden boleh ditawan, tapi TNI tidak pernah menyerah. Benteng terakhir republik ada dalam hati para prajurit.

Kondisi kesehatan Soedirman terus memburuk. Akhirnya dia terpaksa ditandu. Konon, setiap prajurit berebutan mengangkut tandu sang jenderal itu. Mereka semua merasa haru melihat sosok Pak Dirman.

Pasukan baret merah Belanda selalu gagal menangkap Soedirman. Berkali-kali pasukan kebanggaan Jenderal Spoor ini harus pulang dengan tangan hampa saat memburu Soedirman.

Perjuangan Soedirman tidak sia-sia. Berbagai serangan yang dilakukan TNI mampu mendesak Belanda duduk ke meja perundingan. Hingga akhirnya Belanda setuju untuk meninggalkan Yogyakarta.

Maka Soedirman kembali ke Yogyakarta. Resimen-resimen TNI berbaris menyambutnya. Lagi-lagi mereka tidak kuasa menahan haru melihat tubuh kurus yang berbalut mantel seperti milik petani itu. Para prajurit tahu hanya semangat yang membuat Pak Dirman tahan bergerilya berbulan-bulan.

Gerilya yang dilakukan Soedirman besar artinya untuk Republik Indonesia. Jika Soedirman tidak bergerilya dan melakukan serangan pada Belanda, maka dunia internasional akan percaya propaganda Belanda bahwa republik sudah hancur. Tanpa gerilya, Indonesia tidak akan mungkin punya suara dalam perundingan Internasional.

Di depan istana Presiden Yogyakarta, Soekarno merangkul Soedirman. Soekarno sempat mengulangi pelukannya karena saat pelukan pertama tidak ada yang memotret momen itu. Momen ini penting artinya, pertemuan keduanya seakan menghapus perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan militer.

Soedirman meninggal 29 Januari 1950. Saat merah putih sudah berkibar di seluruh pelosok nusantara, Soedirman tidak hidup cukup lama untuk melihat hasil perjuangannya.
 

Jumat, Desember 19, 2014

Kunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur Tinggalkan Jejak Sejarah Kelahiran Pancasila

PROKLAMATOR Kemerdekaan Soekarno pernah tinggal di Kabupaten Ende empat tahun. Rumah bersejarah itu kini terawat baik dan menjadi bangunan cagar budaya. Banyak peninggalan Bung Karno yang tersimpan di rumah tersebut.
Soekarno menjalani masa pengasingan di Kelurahan Kota Ratu, Kabupaten Ende, pada 1934–1938. Saat itu Bung Karno masih berusia 33 tahun.
Syafrudin menjelaskan artefak-artefak sejarah peninggalan Bung Karno selama menjalani pengasingan di Ende, NTT. Foto: Thoriq S. Karim/Jawa Pos/JPNN.com
”Cukup muda, tapi sudah menggemparkan dunia,” ujar Syafrudin Pua Ita, ahli waris pemilik rumah tersebut, ketika menemui Jawa Pos (induk JPNN.com) beberapa waktu lalu.
Bung Karno diasingkan setelah pemerintah Belanda menilai dia tidak mau diatur, bahkan menolak untuk tunduk. Bung Karno tiba di Ende pada 14 Januari 1934 dengan menggunakan kapal barang KM Van Riebeeck. Setelah berlayar delapan hari, dia bersama kerabatnya tinggal di rumah milik sahabatnya bernama Abdullah Ambuwaru.
Selama empat tahun, Bung Karno tinggal bersama Inggit Ganarsih, istrinya; Amsih, mertuanya; dan dua anak angkat Amsih yang bernama Ratna Juami dan Kartika.
Syafrudin menjelaskan, di kompleks rumah itu Bung Karno menghabiskan hari-harinya. Tapi, dia tidak mau tinggal diam. Banyak aktivitas yang dia lakukan. Mulai berdiskusi, merenung, hingga membuat tonil (semacam naskah drama).
"Tonil karya Bung Karno sering dipentaskan siswa sekolah di Ende," ujar Syafrudin.
Rumah tempat pengasingan Bung Karno itu terbilang amat sederhana. Sebagian besar dindingnya masih terbuat dari papan. Salah satu kamarnya bersambung dengan ruang tamu. Di kamar itulah Bung Karno bersama istri tidur.
Ada lagi satu ruang tamu tanpa meja kursi alias lesehan. Tempat itu semula sering dimanfaatkan para tokoh agama, seniman, tokoh masyarakat, dan tamu istimewa lainnya untuk berdiskusi secara lesehan.
Rumah tersebut juga mempunyai pekarangan yang cukup luas. Presiden pertama RI itu kerap menghabiskan waktu di pekarangan untuk bercocok tanam. Sampai sekarang beberapa tanaman peninggalan Bung Karno masih dibiarkan tumbuh di tempatnya. Salah satunya pohon kipi yang berada di sisi kiri rumah tersebut.
Mencapai rumah Bung Karno terbilang tidak susah. Dari Bandara Hasan Aroeboesman NTT, perjalanan tidak lebih dari 15 menit. Pengunjung dari luar bisa menggunakan jasa ojek atau travel resmi yang ada di bandara. Masyarakat di Ende umumnya sudah tahu lokasi rumah pengasingan Bung Karno yang bersejarah itu.
Selain bangunan yang masih terjaga baik, Bung Karno meninggalkan sejumlah artefak bernilai nominal tinggi. Di antaranya berupa perabotan rumah tangga, surat nikah, surat cerai, hingga biola kesayangan. Ada pula dua tongkat yang masing-masing punya ciri khas.
Tongkat dengan genggaman berbentuk monyet biasanya digunakan Bung Karno saat menemui perwakilan pemerintah Belanda. Itulah simbol penghinaan terhadap penjajah. Sedangkan satu tongkat lain memiliki genggaman polos.
"Bung Karno menggunakan tongkat ini ketika bertemu sahabatnya," ucap Syafrudin.
Selain rumah pengasingan, Kabupaten Ende kerap disebut sebagai Kampung Bung Karno. Banyak petilasan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Syafrudin memerinci, jejak sejarah keberadaan Bung Karno di Ende tersebut berupa taman perenungan, gedung pementasan tonil, tempat diskusi, dan sejumlah lokasi penting lainnya. Memang, selama dalam pengasingan, Bung Karno tidak boleh bepergian jauh. Aktivitas hidupnya dibatasi dalam radius 8 kilometer. Karena itu, ada tempat-tempat yang dulu sering dipakai Bung Karno untuk menghabiskan waktu selama di Ende.
Misalnya, setiap pagi ayahanda Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tersebut mesti melapor ke markas Belanda. Markas itu berlokasi di sebelah barat rumah pengasingan sang proklamator. Jaraknya sekitar 200 meter dari rumah Bung Karno dan hingga kini masih dimanfaatkan sebagai markas polisi militer.
Setelah wajib lapor, Bung Karno biasanya tidak langsung pulang. Dia mampir dulu ke taman, lalu duduk di bawah pohon sukun di sebelah barat markas Belanda tersebut. Sambil menikmati pemandangan laut yang terpampang di depannya, Bung Karno sering merenungkan berbagai hal di tempat itu. Terutama masa depan republik ini.
Salah satu renungan Bung Karno adalah kondisi sosial masyarakat di Ende. Sebab, ada keunikan yang muncul di permukaan. Yakni perkawinan campur antar pemeluk agama berbeda di daerah tersebut yang sampai sekarang masih terasa. Kawasan pesisir didominasi warga beragama Islam, sedangkan dataran tinggi didominasi warga beragama Katolik.
Nah, pernikahan di Ende tidak memandang perbedaan agama itu. Hebatnya, selama ini tidak pernah muncul konflik sebagai akibat perbedaan agama tersebut. Sebaliknya, agama bisa menjembatani ketika ada warga yang bertikai.
”Yang terpenting adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu ada,” tutur Syafrudin.
Hasil perenungan di Ende itulah yang kemudian disampaikan Bung Karno dalam pidato di Kongres Amerika Serikat. Isinya merupakan cikal bakal kelahiran dasar negara Pancasila. Soekarno menyatakan, ada lima prinsip hidup bagi warga Indonesia. Yakni kepercaya kepada Tuhan, nasionalisme, kemasyarakatan, demokrasi, dan keadilan sosial.
”Prinsip-prinsip itulah yang lalu disempurnakan menjadi dasar negara kita, Pancasila,” jelas Syafrudin.
Setelah melakukan perenungan di bawah pohon sukun, Bung Karno pulang ke rumah pengasingan bersama kawan-kawan simpatisannya dari berbagai kalangan. Ada tokoh agama, seniman, tokoh pendidikan, hingga warga Belanda yang bersimpati kepadanya. Tamu-tamu itu dijamu di ruang tamu yang kini menjadi tempat penyimpanan barang peninggalan Bung Karno.
Pada 1938 Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu. Dia meninggalkan banyak benda bersejarah selama empat tahun menjalani pengasingan di Ende. Yang kini sudah mengalami pemugaran menjadi bangunan cagar budaya.
Misalnya taman perenungan yang sekarang dihiasi patung besar Bung Karno duduk di bawah pohon sukun sambil menerawang jauh ke pantai. Lalu tempat pementasan tonil yang masih dalam pembangunan. Begitu juga makam ibu Amsih, mertua Bung Karno, yang juga dalam pemugaran.
”Pemugaran tempat-tempat petilasan Bung Karno itu merupakan proyek yang digagas mantan Wakil Presiden Boediono pada 2012. Pembiayaannya menggunakan APBN,” ungkap Syafrudin. (*/c10/c9/ari)

Minggu, Desember 07, 2014

Tentara Jepang Pamerkan Kisah Perjuangannya di Pantai Eretan Indramayu

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tentara Jepang yang pernah bertempur baik di Indonesia maupun di Filipina mulai 8 dan 9 Desember besok memamerkan dokumentasi catatan sejarah mereka dan foto-foto zaman dulunya di galeri Shichijodori Honcho, Higashiyama-ku, kota Kyoto.
Masayuki Nakano (80) putra sulung Yuichi Nakano (alm)
"Kami ingin agar generasi muda sekarang mengetahui sejarah yang sebenarnya di masa lalu sehingga dipamerkan kisah sejarah ini, catatan sejarah ini beserta foto zaman dulu saat perang," papar Masayuki Nakano (80) putra sulung almarhum Yuichi Nakano yang hidup antara tahun 1907-1991.
Dalam pameran rekam jejak oleh almarhum Nakano selama 77 tahun, almarhum menulis mengenai kisah perangnya di berbagai negara. Khusus di Indonesia terjadi di pantai Eretan Indramayu pulau Jawa. Tanggal 1 Maret 1942 Nakano menuliskan dia mendarat di pantai Eretan Indramayu.
"Saat mendarat di pantai Eretan terjadi pertempuran sangat sengit melawan tentara sekutu sehingga sekitar sepertiga tentara Jepang menjadi korban dan meninggal dunia," tulis buku harian tersebut.
Setelah itu Nakano sempat ditangkap dan di penjara di sana. Bulan Juli 1943 akhirnya Nakano berhasil pulang kembali ke kampung halamannya di Kyoto setelah dilepaskan dari penjara perang. Berarti Nakano berada di Indonesia sekitar 15 bulan saat perang dunia lampau.
"Saya senang sekali bisa kembali ke kediaman kampung halaman saya," tulis almarhum Nakano lagi yang menuliskan kisahnya pada kertas sepanjang 8 meter.
Masayuki sendiri melihat kisah ayahnya itu sangat patriotik sehingga meskipun perang telah berakhir sekitar 70 tahun lalu, Masayuki melihat perlunya kalangan muda saat ini mengetahui sejarah di masa lalu, "Kami ingin mereka yang muda datang ke sini merasakan jaman saat itu."
Berbagai tulisan harian pada kertas atau surat dipamerkan, beserta foto-foto jaman dulu dan juga bagde-badge atribut para tentara Jepang yang berjuang di masa perang dunia kedua lampau itu.
Galeri terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya apa pun bagi umum yang hadir ke sana.

Jumat, November 07, 2014

Mensos: Keluarga Pahlawan Nasional Dapat Tunjangan Tiap Bulan

Presiden Jokowi memberikan ucapan selamat kepada 4 pejuang penerima gelar Pahlawan Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (7/11). (Republika/Tahta Aidilla)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja memberikan gelar pahlawan nasional kepada empat tokoh yang telah berjasa pada bangsa dan negara. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, ada tunjangan yang diterima ahli waris pahlawan nasional.

"Untuk keluarga ada tanda penghormatan tiap bulan, ada uang kesehatan," ujarnya usai upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jumat (7/11). Meski demikian, Ketua Muslimat NU tersebut enggan menyebut berapa nilai tunjangan yang diterima ahli waris pahlawan nasional.

"Kalau disebut jumlahnya masih jauh dari yang semestinya kita bisa sampaikan," kata Khafifah.  Dia menjelaskan, empat tokoh yang mendapat gelar pahlawan nasional telah melalui proses panjang hingga akhirnya diberi gelar istimewa tersebut.
Mulai dari diajukan oleh pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, sampai di pemerintah pusat. Kemudian, setelah sampai di pemerintah pusat akan ada verifikasi data calon pahlawan nasional. Tak hanya itu, pemberian gelar pahlawan nasional juga harus melalui DPR. 

Berikut adalah empat tokoh yang menerima anugerah tersebut:
1. Alm Letjen TNI Djamin Ginting.

Pada tahun 1947, saat pasukan Belanda melancarkan Agresi Militer I, Djamin memimpin perlawanan di Front Tanah Karo seperti Sibolangit, Pancur Batu, Tuntungan, Merek dan Saribudolok. Selain itu, Djamin juga salah satu komandan pasukan Indonesia dalam pertempuran Medan Area melawan pasukan Inggris di Sumatera. Djamin juga pernah menjadi Duta Besar Luar Biasa RI di Kanada pada 1972 sampai ia wafat di tahun 1974.

2. Almarhum Sukarni Kartodiwirjo

Pria kelahiran Blitar, 14 Juli 1916 ini merupakan salah satu orang yang mendesak Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan membawa keduanya ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Setelah proklamasi, Sukarni menghimpun kekuatan pemuda mendukung pemerintah RI.

3. Almarhum K.H. Abdul Wahab Chasbullah

Tokoh agama dari Jombang, Jawa Timur ini merupakan salah satu tokoh yang merusmukan Resolusi Jihad sebagai dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan. Sebagai tokoh NU, Abdul Wahab juga pernah menghimpun dukungan Nahdliyin pada pemerintah Indonesia dalam memenangkan perang melawan Belanda.

4. Almarhum Jenderal Mayor Mohammad Mangoendiprojo

Pria kelahiran Sragen, 5 Januari 1905 ini merupakan salah seorang tokoh penggerak revolusi. Mohammad juga berjasa dalam mengambil alih aset pribadi orang-orang Belanda yang tersimpan di Bank Escompto senilai ratusan juta gulden. Uang tersebut kemudian digunakan untuk kepentingan perjuangan.

Kamis, November 06, 2014

Veteran Perang Bali Dihargai dengan Tembakan Salvo

REPUBLIKA.CO.ID,DENPASAR–Veteran perang kemerdekaan Bali patut mendapat perhatian karena menjadi saksi sejarah bangsa serta bisa menjadi teladan bagi kaum muda.
Edi Yusuf/Republika
"Jumlah veteran saat ini tinggal sedikit. Waktunya kita memberikan penghormatan tertinggi untuk mereka dengan memperhatikan kesejahteraannya," ujar Ketua Umum Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Provinsi Bali, I Wayan Windia, Kamis (6/11).
Bentuk perhatian terhadap kaum veteran, jelasnya, salah satunya dengan tembakan salvo saat upacara pemakaman seluruh mantan pejuang. Padahal, sebelumnya tembakan salvo ini hanya diberikan kepada mantan pejuang yang mendapatkan bintang gerilya.
Pemerintah daerah, ujar Wayan juga memberikan bantuan uang duka dan sejumlah tunjangan untuk keluarga veteran, mulai dari tunjangan bulanan untuk istri veteran, tunjangan sakit, hingga santunan meninggal dunia.
 Setiap tahunnya, pihak Pemerintah Kota Denpasar misalnya, rutin mengajak veteran ikut acara jalan-jalan. Mereka juga diberikan rumah yang kepemilikannya digratiskan sebab ditanggung pemerintah.
Jumlah veteran Bali yang berjuang untuk perang kemerdekaan, kata Windia mencapai 24 ribu orang. Sebanyak 1.372 orang menjadi korban perang dari total satu juta penduduk Bali di waktu itu.
Hingga kini, hanya tersisa tujuh ribu veteran asal Bali yang masih hidup dan tersebar di Bali dan luar Bali.
Windia mengatakan keluarga veteran selalu menyuarakan agar generasi muda saat ini bisa meneladani perjuangan para pahlawan. Mereka harus berani memikirkan kepentingan bangsa dibandingkan individu atau kelompok.
"Inilah yang namanya nasionalisme. Mereka harus mempunyai wawasan kebangsaan. Sebab, kebudayaan dan peradaban generasi saat ini sudah mengalami transformasi. Responnya kurang sekali," kata Windia

Minggu, Oktober 26, 2014

Pidato Lengkap Presiden Joko Widodo

Pada Minggu (26/10), Presiden Joko Widodo telah mengumumkan jajaran kabinetnya. (CNN Indonesia/Arie Riswandy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada pukul 17.15 WIB, Presiden Jokowi mengumumkan nama-nama menteri pada Kabinet Kerja 2014-2019 di halaman belakang Istana Merdeka. Berikut pidato lengkap yang diberikan presiden RI ketujuh tersebut:

"Assalamualaikum. Selamat sore. Alhamdulillah

Hari ini kabinet baru sudah terbentuk dan kami beri nama Kabinet Kerja. Kami diberi waktu 14 hari untuk menyusun kabinet ini.

Anggota Kabinet Kerja diumumkan pada hari keenam setelah saya dan Jusuf Kalla dilantik sebagai presiden dan wakil presiden. Pengumuman ini lebih cepat delapan hari dari batas maksimal undang-undang tentang kementerian negara.

Memang, proses penetapan menteri ini saya lakukan dengan hati-hati dan cermat. Ini menjadi keutamaan, karena kabinet akan bekerja selama lima tahun.

Kami ingin mendapat orang-orang yang bersih sehingga kami mengkonsultasikan nama-nama ini dengan KPK dan PPATK. Kami ingin akurat dan tepat, dan kami semua pasti percaya kepada KPK dan PPATK.

Yang kami pilih, selain memiliki kemampuan di bidangnya, juga punya manajerial dan kepemimpinan yang baik.

Dua jam yang lalu telah hadir di istana ketua dan pimpinan DPR, sebagai respons terhadap surat kami. Alhamdulilah, dua jam yang lalu (kami) sudah mendapatkan pertimbangan DPR RI.

Tiga puluh menteri akan kami perkenalkan dan panggil satu per satu.

1. Mensesneg: Pratikno. Beliau adalah dosen UGM guru besar ilmu poilitik dan pemerintahan. Anak desa yang masuk ke Jakarta seperti saya.

2. Menteri Perencanaan Pembangunan, Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago. Beliau Ahli kebijakan publik dan tata negara. Ia menulis buku tentang gagalnya pembangunan. Saya ajak supaya pembangunan tidak gagal.

3. Menko Bidang Kemaritiman: Indroyono Susilo. Terakhir menjabat sebagai direktur FHO untuk perikanan dan budidaya laut. Saya minta kawal potensi maritim yang ada di seluruh wilayah Indonesia.

4. Menhub: Ignatius Jonan. Beliau adalah Dirut PT KAI. Manajer profesional yang berpengalaman dan diakui di sektor transportasi publik. Sering tidur di kereta api, tetapi sekarang ia juga boleh tidur di pesawat dan kapal laut.

5. Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti. Beliau adalah wirausahawati, pengusaha keras yang mulai dari nol. Mengusahakan perikanan, beliau mulai jualan ikan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Saya yakin beliau akan membawa kemajuan di bidangnya.

6. Menteri Pariwisata: Arief Yahya. CEO PT Telkom. Profesional yang mumpuni dalam pemasaran. Menerima anugerah "Best CEO of the Year 2013"

7. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Sudirman Said. Direktur Eksekutif Transparansi Indonesia. Sekarang Dirut PT Pindad. Sektor yang sangat besar dan saya titipkan sektor ini kepada beliau.

8. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM: Tedjo Edhy Purdijatno. Mantan Kepala Staf Angkatan Laut. Kami mau berprestasi di Maritim.

9. Menteri dalam negeri: Tjahyo Kumolo. Politisi profesional yang demokratis dan tegas, terampil membangun dioalog dengan daerah dan masyarakat. Putra solo.

10. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Marsudi. Dubes RI di Belanda. Sangat muda, pekerja keras, tegas, profesional, dan menjadi menlu perempuan pertama dalam sejarah kita.

11. Menhan: Ryamizard Ryacudu. Sosok militer pemikir, demokratis, penjaga NKRI. Pernah jadi kepala staf AD dan saya minta menjaga pertahanan kita.

12. Menteri Hukum dan HAM: Yasonna Laoly. Politisi profesional, ahli hukum. Hukum di Indonesia membaik dibawah Laoly.

13. Menkominfo: Rudiantara. Beliau CEO profesional yang telah memajukan sektor teknologi informasi publik.

14. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Yuddy Chrisnandy. Profesional, politisi muda, terampil. Saya minta membuat terobosan dalam birokrasi ke depan.

15. Menteri Koordinator Perekonomian: Sofyan Djalil. Ahli ekonomi keuangan. Putra aceh. Sebagai nahkoda tim kabinet ekonomi sekarang ini.

16. Menteri Keuangan Bambang Brodjo. Ekonom profesional muda, ahli desentralisasi fiskal dan pemerataan kesejahteraan.

17. Menteri BUMN: Rini Soemarno. Profesional, banyak menjadi CEO di perusahaan internasional, tim transisi, pernah menjadi menperindag, dan saya menilai beliau adalah pekerja yang super cepat. Lincah sekali.

18. Menteri Koperasi dan UMKM. AAGN Puspayoga. Profesional partai. Ia mengembangkan kewirausahaan dan sangat paham dengan usaha kecil pariwisata.

19. Menteri Perindustrian: Said Husin. Politisi profesional dan pekerja yang ulet. Diharapkan bisa mendorong dunia perindusatrian.

20. Menteri Perdagangan: Rahmat Gobel. Terbukti mengembangkan perdagangan nasional. Saya minta beliau mengembangkan perdagangan Indonesia.

21. Menteri Pertanian: Amran Sulaeman. Sosok pertani muda di desa yang sukses membangun model wirausaha pertanian. Ia mengurus sektor pertanian kita sehingga semakin kuat.

22. Menteri Tenaga Kerja: Hanif Dhakiri. Memiliki keberpihakan yang kuat terhadap ketenagakerjaan di Indonesia.

23. Menteri PU dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadi Mulyono. Birokrat senior di PU. Pekerja yang tangguh.

24. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya. Doktor bidang perencanaan dan menjadi profesional. Saya minta kawal lingkungan hidup kita ke depan.

25. Menteri Agraria dan Tata Ruang: Ferry Mursyidan Baldan. Politisi aktif di berbagai isu. Banyak mengurus agraria.

26. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani. Kita tahu semua pengalamannya di bidang sosial dan rakyat kecil

27. Menteri Agama: Lukman Hakim Saefudin. Sosok pekerja keras dan sudah mengurus kementerian agama.

28. Menteri kesehatan Nila F Moeloek.

29. Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa. Politisi NU berpengalaman di sosial politik dan pernah menjadi menteri.

30. Menteri Pemberdayaan Perempuan: Yohanan Yambise. Profesor dan guru besar perempuan pertama dari Papua.

31. Mendiknas Anies Baswedan. Saya kira tidak usah dipromosikan, semua sudah tahu. Beliau perintis Indonesia Mengajar

32. Menristek Dikti: M Nassir. Guru besar Undip.

33. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Profesional. Memiliki jejaring yang kuat. Saya minta kawal pengingkatan prestasi olahraga dan ASIAN Games 2018

34. Menteri Daerah tertinggal Marwan Ja'far. Tugas beliau saat ini mengimplementasikan apa yang sudah dia tulis.

Saya kira sudah saya sampaikan semua anggota Kabinet Kerja."
(vws)
 

Senin, September 15, 2014

Veteran tukang timbangan keliling dulu perang lawan marinir AS

Veteran tukang timbangan keliling dulu perang lawan marinir AS
MERDEKA.COM. Emin Dudung, seorang veteran perang 45 hidup kekurangan di senja usianya. Dia berkeliling kota Bandung menjajakan jasa menyewakan timbangan badan. Pria berusia 80 tahun ini sekadar mencari sesuap nasi. Penghasilannya tak tentu. Jumlah orang yang mau ditimbang badan di tempat umum bisa dihitung dengan jari.

Kakek tua ini sudah ompong, bicaranya pun tak jelas karena usia. Tanta Bagus Dewanto, anggota Komunitas Historia Van Bandung pernah berbincang sejenak dengan veteran tersebut.

"Beliau dulu mengaku pernah ikut latihan Heiho tahun 1943. Latihannya berat sekali katanya,
" ujar Tanta saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (14/3) sore.

Pada periode tersebut tentara Jepang memang merekrut banyak pemuda Indonesia untuk dijadikan pembantu tentara Jepang atau Heiho. Mereka bertugas melakukan pekerjaan kasar seperti mengangkut amunisi dan menggali lubang perlindungan.

Namun tak jarang pula Heiho ikut bertempur bersama tentara Jepang jika keadaan sudah terdesak. Pak Emin ikut dikirim ke Pasifik. Dia berperang melawan serangan Marinir Amerika Serikat.
Beliau lalu dipulangkan ke Indonesia. Begitu Indonesia merdeka, Pak Emin bergabung dengan perjuangan Indonesia. Dia melatih para pemuda Indonesia untuk bertempur melawan Belanda.

Pengalaman bertempur di Pasifik sangat berguna bagi angkatan perang Indonesia yang baru terbentuk. "Pak Emin sempat melatih kemiliteran para pemuda di Cikawao, Bandung," kata Tanta.
Emin pun ikut hijrah ke Yogyakarta bersama pasukan Siliwangi tahun 1947 sebagai buntut perjanjian RI dan Belanda.

Saat Belanda kembali menyerang tahun 1948, dia kembali ke Jawa Barat untuk berperang. Yang mereka hadapi tak cuma Belanda, tetapi serangan gerilyawan Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Kini di hari tuanya, Emin masih harus berjuang. Bukan melawan Belanda, tetapi berjuang mencari sesuap nasi.

Kisah Emin diposting oleh seorang siswa SMU di Bandung, Nadiah Nurul Fauziah di facebooknya. Nadia merasa sedih pejuang yang punya peran dalam kemerdekaan bisa bernasib seperti ini.

Ribuan orang membagikan kisah ini di jejaring sosial. Mereka menyesalkan kurangnya perhatian pemerintah pada nasib para veteran.

Presiden Soekarno pernah berkata. "Hanya bangsa yang besar yang bisa menghargai jasa para pahlawannya."

Maka apakah kita adalah bangsa yang besar?

Jumat, September 05, 2014

Pasukan Gerilya Istimewa, pasukan elite TNI eks tentara Jepang

Rahmat Shigeru Ono. ©repro dok keluarga
Merdeka.com - Semasa perang kemerdekaan, TNI pernah memiliki pasukan elite bernama Pasukan Gerilya Istimewa. Seluruh anggotanya adalah mantan tentara Jepang yang memihak Indonesia.

Adalah Abdul Rahman Tatsuo Ichiki yang mengusulkan pada Komandan TNI di Jawa Timur, Kolonel Sungkono mengenai usulan pasukan istimewa ini. Usulan itu disetujui, eks tentara Jepang yang tersebar di dalam pasukan lain dikumpulkan menjadi satu. Tercatat jumlahnya 28 orang. Rahmat Shigeru Ono ikut menjadi anggota PGI.

Kisah hidup Ono kemudian dituliskan menjadi buku oleh Eiichi Hayashi. Di Indonesia buku ini berjudul Mereka Yang Terlupakan, Memoar Rahmat Shigeru Ono. Diterbitkan Ombak tahun 2011.

Komandan pertama PGI adalah Arif Tomegoro Yoshizumi, sementara Ichiki menjadi wakilnya. Namun dalam sebuah pertempuran, Yoshizumi tertembak dan tewas di Blitar.

Ichiki kemudian memimpin pasukan elite itu berkali-kali menyerang pos Belanda. Dalam sebuah serangan tanggal 30 Agustus 1948 di Pajaran, mereka berhasil menghancurkan sebuah pos Belanda. 20 Prajurit Belanda tak ada yang selamat. Sementara sama sekali tak ada korban di pihak PGI.

Serangan-serangan berikutnya juga menghasilkan kemenangan gemilang. PGI juga dipercaya membantu melatih dan menyusun strategi pasukan-pasukan lain yang berada di kaki Gunung Semeru. Nama mereka harum karena prestasi.

Hal ini membuat marah Belanda. Mereka selalu memburu pasukan elite ini. Pasukan Belanda keluar masuk kampung mencari orang Jepang. Untungnya tak ada seorang pun yang berhasil ditangkap.

Saat bertugas di PGI inilah Rahmat Shigeru Ono kehilangan lengan kirinya. Tanggal 27 September 1948, Rahmat Ono mencoba mengutak-atik tekidanto atau pelontar granat. Karena peluru asli habis, Rahmat Ono mencoba mencari penggantinya. Namun ternyata peluru tekidanto meledakkan tangan kiri Rahmat hingga terpaksa diamputasi.

Rahmat Ono tak pernah menyesal. Dia bahkan sudah siap berkorban nyawa untuk Indonesia.

"Saya sudah putuskan rela mati untuk kemerdekaan Indonesia. Saya masih punya satu tangan lagi, jadi masih bisa memakai tangan ini. Saya akan selesaikan tujuan saya sampai akhir atau sampai benar nyawa saya hilang untuk memberikan yang telah dijanjikan oleh Tanah Air saya," ujar Ono dalam buku hariannya.

Saat terbaring sakit itulah Rahmat Ono menerima kabar pahit. Salah satu tokoh PGI, Hasan Toshio Tanaka memutuskan keluar. Tanaka yang berasal dari Kenpetai (polisi militer Jepang) merasa Abdul Rahman Tatsuo Ichiki tak pantas memimpin PGI.

Ichiki memang hanya seorang penerjemah, dan bukan anggota militer. Tapi kemampuan tempur dan intelijen Ichiki sebenarnya tak kalah dengan tentara Jepang lain. Ichiki juga memiliki kepemimpinan dan kecerdikan tinggi. Rahmat Ono selalu menganggap Ichiki sebagai gurunya.

Pria gagah berani ini gugur dalam sebuah pertempuran di Dampit, Malang Selatan. Jenazahnya ditemukan di tebing sebuah jurang. Dia dimakamkan secara Islam dan didoakan seluruh penduduk desa.

"Papi datang mengunjungi makam tersebut hampir setiap tahun. Akhirnya tulang belulang Pak Abdul Rahman dibawa kembali ke Jepang. Mimpi Papi semasa hidup adalah membangun monumen di sana untuk menghormati komandannya. Tapi belum disetujui," kata putri dan putra Rahmat Ono, Erlik Ono dan Agoes Soetikno Ono saat berbincang dengan merdeka.com.

Sisa-sisa Pasukan Gerilya Istimewa kemudian dilebur dalam Pasukan Untung Suropati (PUS-18). Yang menarik, seharusnya mereka bernama PUS-17 sesuai urutan kesatuan. Tapi banyak eks Tentara Jepang yang menolak.

"Angka 7 dalam Bahasa Jepang shinci, mengandung kata shi yang artinya mati. Akhirnya pimpinan TNI setuju dan menggantinya dengan angka 18," kisah Rahmat Ono.

Pasukan Untung Surapati 18 ini kembali menorehkan banyak prestasi di medan pertempuran. Pimpinan TNI di Malang mengakui jasa-jasa mereka sangat banyak dalam perang kemerdekaan.

Kamis, Agustus 14, 2014

SBY tetapkan 10 Agustus sebagai Hari Veteran Nasional

SBY. ©rumgapres/abror rizki
 Reporter : Putri Artika R
Merdeka.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Keputusan Presiden No. 30 Tahun 2014, menetapkan Hari Veteran Nasional jatuh pada tanggal 10 Agustus. Keputusan Presiden SBY ini dilatarbelakangi oleh pernyataan presiden pertama Soekarno pada tanggal yang sama menyampaikan tentang hari veteran.

"Hari yang bersejarah tepatnya 10 Agustus, yang setelah presiden pertama kita Bung Karno menyampaikan ke hadapan rakyat Indonesia. Waktu itu 10 Agustus sebagai hari veteran, maka telah saya kukuhkan melalui peraturan presiden tertulis dan resmi bahwa 10 Agustus menjadi Hari Veteran Indonesia," kata SBY di Peringatan Hari Veteran Nasional, di Balai Sarbini, Jakarta, Senin (11/8).

SBY mengatakan, Agustus ini adalah bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ditetapkannya Hari Veteran Nasional, kata SBY, sebagai tanda penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan.

"Pada tanggal 10 Agustus yang menandai di bumi pertiwi ini ada putra putri bangsa, ada pejuang kemerdekaan dan para pahlawan dan syuhada yang mengorbankan jiwa raganya untuk Republik Indonesia," ujarnya.


"Yang dilakukan veteran kita tidak lain adalah untuk mempertahankan tanah air Indonesia, untuk menjaga kedaulatan bangsa yang baru saja diraihnya," ujar SBY lagi.

Dalam kesempatan itu, SBY juga tak lupa mengingatkan bahwa pada tanggal 10 Agustus kemarin juga merupakan Hari Kebangkitan Teknologi. Teknologi sangat penting bagi peradaban suatu bangsa.

"10 Agustus Hari Kebangkitan Teknologi, bangsa yang menguasai teknologi, Insya Allah bangsa yang maju," harapnya.

Selain itu, SBY juga ingin mengingatkan tanggal-tanggal penting dan bersejarah lainnya bagi Indonesia. Pertama, tanggal 14 Agustus, Hari Gerakan Pramuka Indonesia. Kedua, 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia, dan yang terakhir adalah 18 Agustus sebagai hari ditetapkannya UUD 1945.

"Tanggal 18 Agustus jangan dilupakan, karena itu lah hari ditetapkan UUD 1945, ditetapkan konstitusi di negeri ini. 17 sebenarnya belum punya konstitusi dan kemudian 1 hari kitanya resmi kita punya UUD yang di dalamnya ada dasar negara, Pancasila. Ini tonggak-tonggak penting yang kita peringati bulan Agustus ini," jelasnya.

"Pada hari ini, atas nama negara dan selaku pribadi saya mengucapkan selamat memperingati Hari Veteran Nasional," tutup SBY.
[gib]

Rabu, Agustus 06, 2014

LVRI Undang Presiden Hadiri Peringatan Hari Veteran

Oleh : desk informasi Sekab RI

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima undangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) untuk menghadiri peringatan Hari Veteran Nasional ke-65 pada 11 Agustus 2014

Undangan tersebut disampaikan oleh pengurus DPP Legiun LVRI yang menghadap Presiden  di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (6/8).

LVRI merupakan organisasi kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana perjuangan bagi segenap veteran RI. Organisasi ini dibentuk berdasarkan persamaan kehendak, bidang kegiatan, profesi dan fungsi untuk berperan serta dalam pewarisan nilai-nilai juang 1945, pembangunan nasional, serta pertahanan dan keamanan nasional.

Ketua Umum DPP LVRI Rais Abin kepada wartawan mengatakan bahwa Presiden SBY mengutarakan rasa gembira dan bangga terhadap undangan yang disampaikan kepadanya.

"Presiden akan memenuhi undangan itu dan menyampaikan komitmen-komitmen kepada para veteran pada 11 Agustus nanti," kata Rais Abin.

Kehadiran Presiden, Rais Abin menilai, besar artinya karena akan mampu meningkattkan perhatian masyarakat khususnya kalangan muda terhadap LVRI, dan nilai-nilai perjuangannya.

Rais abin didampingi Wakil Ketua Umum (Waketum) I Sukotjo Tjokroatmodjo, Waketum II Ari Sudewo, Sekjen FX Suyitno, dan Ketua Yayasan LVRI IGN Danendra.

Mendampingi Presiden SBY Menkokesra Agung Laksono, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Mensos Salim Segaf Al-Jufri, Mensesneg Sudi Silalahi dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam. (WID/ES)

Foto-foto LVRI : Merdeka.com

Rabu, Juni 18, 2014

Ini pesan Try Sutrisno pada jenderal yang jadi timses capres

Merdeka.com - Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno meminta para purnawirawan TNI/Polri yang berada di kubu kedua calon presiden agar tetap memegang teguh jiwa Saptamarga.Prabowo dan Jokowi berperan sebagai bhayangkari negara.
Mantan Panglima ABRI itu juga meminta purnawirawan yang dalam kubu
"Tetap mengawal persatuan nasional, serta menjadi teladan dalam kubu masing-masing sesuai dengan nilai Pancasila," ujar Try Sutrisno mewakili Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-Polri di Gedung Granadi, Jakarta Selatan, Rabu (18/6).
Mantan Panglima ABRI ini mengingatkan kalau berpolitik bukan hanya mencari kekuasaan. Namun, sebagai sarana perjuangan untuk mencapai tujuan kemerdekaan.
"Kedua belah pihak juga untuk menghentikan kampanye hitam karena dapat memicu perpecahan. Kampanyelah dengan cerdas dan santun," katanya.
Dalam kesempatan itu, Try juga meminta kepada Panglima TNI, Polri dan para Kepala Staf Angkatan untuk menjamin netralitas seluruh jajarannya. Pihak keamanan harus mengambil tegas kepada pelanggar disiplin sesuai dengan peraturan yang berlaku.
"Harus waspada juga dengan perkembangan dinamika politik," tuturnya.
Selain itu, Ketua Dewan Pembina PKPI itu berharap media massa memuat berita yang berimbang. "Hindari berita yang bersifat memanaskan situasi," katanya.
[dan]

Selasa, Mei 27, 2014

Siap Menangkan Pasangan Prabowo-Hatta

    
JURNALPPM.CO – Meskipun belum menjadi keputusan resmi organisasi, sebagian besar Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga (PD. PPM), menyatakan siap untuk memenangkan pasangan Capres/Cawapres, H. Prabowo Subianto dan Ir. M. Hatta Radjasa, dalam pelaksanaan Pilpres tgl 9 Juli 2014 mendatang.
Hal itu tercermin dalam sesi pemandangan umum/laporan para Ketua PD. PPM, pada acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) yang digelar oleh Pimpinan Pusat (PP) PPM, di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, 21-22 Mei 2014.
Silatnas tersebut merupakan pra kegiatan Rapat Pimpinan (Rapim) PPM, yang merupakan agenda resmi organisasi sebagaimana diatur dalam AD/ART PPM. Kegiatan Silatnas dilaksanakan sebagai bentuk tanggungjawab dan kepedulian PPM selaku elemen bangsa, dalam mencermati sekaligus menyikapi situasi kehidupan politik di tanah air dewasa ini.
Sejumlah Ketua PD. PPM bahkan mengusulkan agar Silatnas dapat disepakati untuk dijadikan forum Rapim, sehingga dapat mengambil keputusan strategis organisasi terutama yang terkait dengan pemenangan Capres/Cawapres Prabowo-Hatta.
Namun demikian, Ketua Umum PP. PPM, H. Lulung AL, SH meminta kepada para ketua PD. PPM untuk membawa aspirasi tersebut dalam forum Rapim PPM yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.
Lulung yang didampingi Waketum, H. Andi Surya Wijaya, SH, Ketua, Drs. H. Iedfil J Anwar dan Sekjen, Ir. Ishak Tan, Msi, PhD, pada kesempatan tersebut menyatakan, PP. PPM sangat menghargai sekaligus mengapresiasi keinginan daerah terkait sikap politik organisasi dalam pelaksanaan Pilpres tahun 2014. “Kita berharap semua ini dapat dibawa dan diputuskan dalam forum Rapim,” ujarnya.
Selain sikap politik dimaksud, para ketua PD. PPM seluruh Indonesia juga merekomendasikan kepada PP. PPM untuk mengupayakan agar Kantor Sekretariat PP. PPM tetap berada di Gedung LVRI, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat.
Dalam kaitan konsolidasi organisasi disepakati untuk tetap melanjutkan dan meningkatkan pelaksanaan konsolidasi mulai dari tingkat Cabang, Ranting dan Anak Ranting. Ketua Umum PP. PPM, H. Lulung memuji pelaksanaan konsolidasi organisasi yang dilakukan secara simultan mulai dari Cabang, Ranting hingga Anak Ranting. (SS)

Minggu, Mei 04, 2014

Permintaan Maaf Belanda Atas Penjajahan di Indonesia Buka Luka Lama

BULUKUMBA - citizenjurnalism.com Abdul Khalik masih ingat dengan jelas peristiwa hampir 70 tahun yang lalu saat ia melihat ayahnya dibawa dari desa mereka yang terpencil oleh tentara Belanda untuk dieksekusi.
“Ia mengatakan pada saya, ‘Pulang, nak’ tapi saya menolak,” kenang pria berusia 75 tahun itu dengan mata menerawang, saat diwawancara di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Tengah.
Ayahnya ditembak mati esoknya, satu dari ribuan yang dibunuh tentara Belanda pada perang kemerdekaan saat Indonesia ingin lepas dari penjajahan
Operasi itu terjadi pada 1946-1947 oleh Belanda untuk merebut kekuasaan kembali di Sulawesi setelah hampir berhasil diusir keluar — salah satu episode paling gelap dalam perang kemerdekaan, yang menewaskan ribuan orang yang dicurigai pemberontak.
Setelah sejumlah janda mendapat kompensasi tahun lalu, Belanda meminta maaf atas semua eksekusi yang dilakukan pada perang kemerdekaan dan menyatakan akan memberi kompensasi pada semua janda yang pasangannya tewas saat itu.
Namun bukannya menutup lembaran hitam, perhatian baru terhadap penjajahan Belanda di Indonesia telah memicu desakan bahwa banyak yang harus dilakukan.
Abdul dan yang lainnya sekarang meminta anak-anak korban, bukan hanya janda, juga menerima kompensasi dan telah membawa kasus mereka ke pengadilan di Belanda. Sidang kasus ini akan berlangsung di Den Haag Agustus nanti.
“Tidak adil. Penahanannya sama, penjaranya sama, penembakan sama, peristiwanya sama, jadi mengapa anak-anak mendapat perlakuan berbeda?” ujar Abdul, dengan menambahkan bahwa ia akan membagi uang dengan 32 cucunya dan satu cicit.
Shafiah Paturusi, perempuan 82 tahun yang kehilangan ayah dan abangnya pada perang tersebut, menambahkan: “Saya ingin keadilan dari Belanda, karena luka kehilangan ayah sama atau bahkan lebih buruk daripada kehilangan suami.”
Kenangan Buruk
Seorang kapten Belanda yang terkenal kejam, Raymon Westerling, menggagas operasi di Sulawesi, di mana pasukan Belanda mengepung desa-desa dan menyergap orang-orang yang diduga tentara musuh sebelum membunuh mereka tanpa proses peradilan.
Ada ketidaksepakatan mengenai jumlah yang tewas dalam pertempuran yang terjadi berbulan-bulan tersebut. Beberapa pihak di Indonesia mengklaim jumlahnya sampai 40.000, sementara studi-studi sejarah mengatakan angkanya antara 3.000 sampai 4.000.
Operasi tersebut terbukti sangat kontroversial dan Westerling dibebaskan dari tugas pada 1948, meski tidak pernah diseret ke pengadilan untuk kejahatan perang.
Bagi generasi tua di Sulawesi, kenangan mengenai operasi itu masih jelas.
Abdul mengatakan ayah dan yang lainnya “ditumpuk di truk seperti hewan” sebelum dibawa pergi, meski sang ayah sempat melambaikan tangannya pada anaknya saat kendaraan itu menjauh.

“Besoknya, ayah saya diambil dari penjara, dirantai dengan delapan lainnya dan mereka semua dihukum mati,” ujarnya.
Waktu Hampir Habis
Liesbeth Zegveld, seorang pengacara hak asasi manusia dari Belanda yang telah memenangkan kompensasi untuk para janda di Indonesia, juga mewakili beberapa anak korban.
Ia berharap kasus ini berhasil namun memperingatkan bahwa hal ini tidak mudah karena waktunya mendesak, sebab banyak yang meminta ganti rugi sudah lanjut usia.
“Negara mencoba membayar sesedikit mungkin dengan memproses klaim ini pelan-pelan, bertanya banyak pertanyaan secara berulang-ulang,” ujarnya pada kantor berita AFP.
Jeffry Pondaag, dari yayasan di Belanda yang dikelola oleh para warga Indonesia yang membantu mereka yang mencari kompensasi, mengatakan selain uang, mereka ingin Belanda lebih terbuka mengenai sisi gelap penjajahan yang dilakukan.
“Kami akan berjuang agar pemerintah Belanda menjelaskan pada masyarakat apa yang yang mereka perbuat terhadap Indonesia itu salah,” ujar Pondaag, yang bekerja di sebuah pabrik semen di barat laut Amsterdam.
Namun pemerintah Belanda menyatakan bahwa Indonesia dan Belanda telah “menarik batas dalam bagian sejarah yang mereka bagi bersama.”
“Pemerintah Belanda telah berulangkali menyatakan penyesalan atas cara yang menyakitkan saat Belanda dan Indonesia berpisah,” menurut pernyataan tersebut.
Hubungan diplomatik antara Jakarta dan Den Haag umumnya baik dan generasi muda Indonesia melihat masa penjajahan Belanda sebagai bagian dari masa lalu yang jauh.
Namun beberapa kalangan generasi tua masih merasakan kekesalan atas periode yang dimulai saat para pedagang dari Belanda tiba pada akhir abad 16.
Beberapa janda telah mendapat kompensasi. Sepuluh orang yang mengajukan tuntutan hukum di Belanda atas operasi di Sulawesi menerima uang sebelum permintaan maaf tahun lalu.
Sejumlah janda lain, yang suaminya tewas pada pembantaian 1947 di Rawagede, juga telah menerima kompensasi.
Pemerintah Belanda pada Agustus tahun lalu mengatakan janda-janda lain dengan klaim serupa memerlukan dua tahun untuk mendaftarkan kompensasi mereka.
The Dutch government in August last year said other widows with similar claims had two years to apply for compensation.
Namun uang tidak selalu menyelesaikan semuanya.
“Kami telah memaafkan Belanda namun ketika menerima uang tersebut, perasaan saya campur aduk,” ujar Andi Aisyah, perempuan berusia 90an tahun yang suaminya tewas di Sulawesi.
“Luka yang telah lama terpendam kembali muncul.” (AFP)

Kamis, Maret 20, 2014

Sekondan menteri keamanan rakyat

Reporter : Arbi Sumandoyo
Kubur Mat Depok. merdeka.com/arbi sumandoyo
Merdeka.com - Para jawara mulai dari Banten sampai Karawang mengenal sosoknya. Mat Beng, jawara Pasar Minggu pemimpin Laskar Banteng Merah berteman baik dengan Daeran. Bahkan Kiai Noer Ali dari Bekasi juga sahabat seperjuangannya dulu.

Mat Depok begitu Daeran dikenal oleh para jawara pada zaman revolusi kemerdekaan Indonesia. Saat membantu mempertahankan republik ini, Mat Depok berada di barisan paling depan. Dia juga berjuang bareng Imam Syafei atau lebih tersohor dengan sapaan Bang Piie.
"Bang Piie itu temen dekat ayah saya," kata Misar, anak dari Mat Depok saat berbincang dengan merdeka.com di kediamannya, Tanah Baru, Kota Depok, Jawa Barat, Senin pekan kemarin. Misar mengatakan ayahnya dekat dengan Bang Piie saat keduanya berperang di Karawang.

Imam Syafei merupakan jagoan legendaris asal Senen. Dia memimpin geng dunia hitam bernama Cobra saat itu. Bang Piie pernah menduduki kursi menteri keamanan rakyat di Kabinet Dwikora. Karena dicap hitam sebagai pengikut Soekarno, Bang Piie dicopot dari jabatannya sebagai menteri oleh Soeharto.

Sejak Sutan Sjahrir membuat kesepakatan Jakarta menjadi Kota Diplomasi, Daeran ikut hijrah ke Karawang. Dia bersama beberapa laskar di Depok berangkat menuju Karawang dengan berjalan kaki hampir seharian melewati daerah Kranggan, Bekasi. Di sana Mat Depok ikut berjuang dan bergabung dengan laskar rakyat dari Jakarta untuk berperang melawan Belanda.

"Kita berangkat dari sini pukul enam pagi, sampai Karawang jam sebelas malam," kata Misar mengenang perjuangannya saat berusia 15 tahun dan ikut berperang bareng ayahnya.

Selain ikut berperang mempertahankan kemerdekaan, Mat Depok memiliki jasa saat peristiwa Gedoran Depok, Oktober 1945. Karena aksi heroiknya menyerbu Depok lantaran tidak mau mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, Daeran dikenal dengan julukan Mat Depok. Julukan itu tak kurang karena tato di dadanya bertulisan Amat Depok Potolan.

"Kalau dulu orang mau ngejarah bilangnya ngegedor. Makanya peristiwa di Jalan Pemuda tempat Belanda Depok dikenal dengan Gedoran," ujar Misar sambil mengingat orang keturunan Belanda saat itu dikumpulkan di gudang garam dan Stasiun Depok Lama.

Setelah kemerdekaan, seperti diceritakan Misar, ayahnya menjadi orang kepercayaan Bang Piie untuk membantu menjaga keamanan Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya. Saat diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat oleh Soekarno, Mat Depok juga ikut diajak Bang Piie.

"Ayah saya dulu boleh dibilang pecalang," kata Misar. Pecalang merupakan satuan tugas keamanan adat. Dari sana, nama Mat Depok kesohor meski hanya di kampung kelahirannya.

Sabtu, Februari 08, 2014

Selembar Surat Terakhir Usman Sebelum Hadapi Tiang Gantungan Singapura

Arbi Anugrah - detikNews
Duplikat surat terakhir Usman Janatin (Foto: Arbi Anugrah-detikcom)
Purbalingga - Sebelum dihukum gantung oleh pemerintah Singapura, Sersan Usman Janatin sempat mengirimkan surat terakhir kepada kedua orang tuanya dan keluarganya. Isi surat yang saat ini sudah ditulis ulang tersebut berisi tentang permohonan maaf dan menyampaikan berita duka setelah permohonan ampunan tidak dikabulkan pemerintah Singapura.

"Surat aslinya sudah dimusiumkan di Jakarta, yang ada di sini hanya fotokopian dan surat yang sudah ditulis ulang," kata Siti Rodiah, kakak kandung Usman Janatin, Sabtu (8/2/2014).

Berikut isi surat terakhir Usman Janatin yang dituliskan sewaktu dia di dalam penjara Changi, Singapura:

  Dengan ini anaknda kabarkan bahwa hingga sepeninggal surat ini mendo'akan Bunda, Mas Chuneni, Mas Matori, Mas Chalimi, ju Rochajah, ju Rodijah dan Tur serta keluarga semua para sesepuh Lamongan dan Purbalingga serta Laren Bumiayu.

Berhubung tuduhan dinda yang bersangkutan dengan nasib dinda dalam rajuan memberi ampun kepada Pemerintah Republik Singapura tidak dikabulkan, maka perlu anaknda haturkan berita-duka kepangkuan Bunda dan keluarga semua disini, bahwa pelaksanaan hukuman mati keatas anaknda telah diputuskan pada 17 Oktober 1968 hari Kamis.

Sebab itu sangat besar harapan anaknda menghaturkan Sujud dihadapan Bunda, Mas Chuneni, Mas Matori, Mas Chalimi, Ju Rochajah, Ju Rodijah dan Turijah, para sesepuh Lamongan, Purbalingga dan Laren Bumiayu, Tawangsari dan djatisaba; sudi kiranja mechichlaskan mohon ampun dan maaf atas semua kesalahan yang anaknda sengaja maupun jang tidak anaknda sengaja.

Anaknda "disana" tetap memohonkan keampunan dosa dan kesalahan Bunda dan Saudara semua di Lamongan,Purbalingga dan Laren Bumiayu, Tawangsari dan Djatisaba; pegampunan kepada tuhan Yang Maha Kuasa. Anaknda harap dengan tersiarnja kabar jang menjedihkan ini tidak akan menjebabkan akibat jang tidak menjenangkan, bahkan jang telah menentukan nasib anaknda sedemikian umurnja.

Sekali lagi anaknda mohon ampun maaf atas kesalahan dosa anaknda kepangkuan Bunda, Mas Chuneni, Mas Matori, Mas Chalimi, Ju Rochajah, Ju Rodijah dan Turijah, dan keluarga Tawangsari, Lamongan, Djatisaba Purbalingga dan Laren Bumiayu.

 Anaknda
 TTD
Oesman b,H,Moch. Ali, al, Janatin,-

Minggu, Januari 12, 2014

Kerkoff Banda Aceh, Bukti Kegigihan Rakyat Aceh Rebut Kemerdekaan

Lieutenan Colonel R.J Nix,mengungkapkan kekagumannya pada masayarakat Aceh yang memperjuangkan kemerdekaannya dahulu, pada diskusi publik yang digelar di Almuslim, Bireuen, Sabtu (11/1). (DESI)
BIREUEN, KOMPAS.com - Sosok Lieutenan Colonel R.J Nix (77), mantan Tentara Kavaleri Kerajaan Belanda yang pada masanya dikenal ahli strategi militer, menjadi sorotan saat mengungkapkan kekagumannya pada kegigihan rakyat Aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Ungkapan itu ia uraikan terperinci saat hadir sebagai salah satu pembicara dalam Diskusi Publik Internasional, bertemakan “the Dutch Colonial War in Aceh”, Sabtu, (11/1/2014) kemarin, di Aula M.A Jangka, Universitas Almuslim, Bireuen. Kegiatan tersebut digelar atas prakarsa dua perguruan tinggi di Bireuen.

Sebagai pensiunan Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Kolonel, R.J Nix, mengatakan, invasi Belanda ke Aceh merupakan kesalahan besar dan justru merugikan Belanda sendiri.

Bukti kerugian itu dibuktikannya dengan keberadaan perkuburan Belanda di Peutcut (Kerkoff Banda Aceh) yang berjumlah 2.200 kuburan tentara KNIL.

Mengaku dilahirkan di Geumpang, Pidie, Aceh, orangtua Lieutenan Colonel R.J Nix, fasih berbahasa Aceh.

“Ayah saya Mantan Komandan Tentara Marsose di Geumpang, Pidie, yang kagum kepada pejuang Aceh yang begitu gigih dalam memperjuangkan dan mempertahankan Tanah Airnya,” katanya.

Saat ini Nix menjabat sebagai Ketua Yayasan Perkuburan Peutcut (Kerkoff) Banda Aceh, namun berkantor di Belanda.

Dalam diskusi kemarin, Nix sempat memperlihatkan 400 gambar termasuk peta wilayah Aceh di masa Kolonial Belanda.

Selain R.J Nix, hadir pula Rusdi Sufi, Peneliti dan Sejarawan, Nurdin Abdul Rahman, mantan Bupati Bireuen, T.Kemal Pasya, Dosen Fisip Unimal.

Ketua Panitia, Muhammad Diah menyebutkan, tujuan digelarnya diskusi publik ini adalah untuk memetakan sejarah tentang heroiknya perjalanan rakyat Aceh dalam melawan kolonial Belanda untuk merdekanya bangsa Indonesia.

Penulis: Kontributor Bireuen, Desi Safnita Saifan
Editor : Glori K. Wadrianto