Rabu, Agustus 17, 2016

KETUA UMUM PEMUDA PANCA MARGA 2016 - 2020 HASIL MUNAS IX PPM TAHUN 2016


Aturan Menyanyi Indonesia Raya - Hati-Hati! Jangan Anggap Remeh Lagu Kebangsaan Kita

Laporan Wartawan TribunStyle.com, Tiara Shelavie
TRIBUNSTYLE.COM - 
Indonesia Raya merupakan lagu kebangsaan Republik Indonesia.

Lagu ini pertama kali diperkenalkan oleh komponisnya, yaitu Wage Rudolf Supratman pada 28 Oktober 1928.

Lagu Indonesia Raya sebenarnya terdiri dari tiga stanza, dan stanza pertama lah yang dipilih sebagai lagu kebangsaan ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Karena lagu ini merupakan lagu kebangsaan, kita tidak boleh menyanyikannya sembarangan.

Ada aturan khusus yang ditetapkan undang-undang.
Lagu kebangsaan Indonesia diatur dalam UU No 24 Tahun 2009, pasal 58-64.


Aturan umum lagu kebangsaan diatur dalam pasal 58, yaitu:


(1) Lagu Kebangsaan adalah Indonesia Raya yang digubah olehWage Rudolf Supratman.

(2) Lagu Kebangsaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.


Penggunaan lagu kebangsaan diatur dalam pasal 59, yaitu:


(1) Lagu Kebangsaan wajib diperdengarkan dan/atau dinyanyikan:

a. untuk menghormati Presiden dan/atau Wakil Presiden;

b. untuk menghormati Bendera Negara pada waktu pengibaran atau penurunan Bendera Negara yang diadakan dalam upacara;

c. dalam acara resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah;

d. dalam acara pembukaan sidang paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Dewan Perwakilan Daerah;

e. untuk menghormati kepala negara atau kepala pemerintahan negara sahabat dalam kunjungan resmi;

f. dalam acara atau kegiatan olahraga internasional; dan

g. dalam acara ataupun kompetisi ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni internasional yang diselenggarakan di Indonesia.

(2) Lagu Kebangsaan dapat diperdengarkan dan/atau dinyanyikan:

a. sebagai pernyataan rasa kebangsaan;

b. dalam rangkaian program pendidikan dan pengajaran;

c. dalam acara resmi lainnya yang diselenggarakan oleh organisasi, partai politik, dan kelompok masyarakat lain; dan/atau

d. dalam acara ataupun kompetisi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni internasional.
T

ata cara penggunaan lagu kebangsaan dituang dalam pasal 60 yang berbunyi:


(1) Lagu Kebangsaan dapat dinyanyikan dengan diiringi alat musik, tanpa diiringi alat musik, ataupun diperdengarkan secara instrumental.

(2) Lagu Kebangsaan yang diiringi alat musik, dinyanyikan lengkap satu strofe, dengan satu kali ulangan pada refrein.

(3) Lagu Kebangsaan yang tidak diiringi alat musik, dinyanyikan lengkap satu stanza pertama, dengan satu kali ulangan pada bait ketiga stanza pertama.


Pasal 61 menjelaskan tentang stanza Indonesia Raya, yaitu:


Apabila lagu kebangsaan dinyanyikan lengkap tiga stanza, bait ketiga pada stanza kedua dan stanza ketiga dinyanyikan ulang satu kali.


Pasal 62 menjelaskan sikap orang saat lagu dinyanyikan, yaitu:


Setiap orang yang hadir pada saat Lagu Kebangsaan diperdengarkan dan/atau dinyanyikan, wajib berdiri tegak dengan sikap hormat.


Pasal 63 menjelaskan aturan lagu kebangsaan kita dengan lagu kebangsaan negara lain.


(1) Dalam hal Presiden atau Wakil Presiden Republik Indonesiamenerima kunjungan kepala negara atau kepala pemerintahan negara lain, lagu kebangsaan negara lain diperdengarkan lebih dahulu, selanjutnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

(2) Dalam hal Presiden Republik Indonesia menerima duta besar negara lain dalam upacara penyerahan surat kepercayaan, lagu kebangsaan negara lain diperdengarkan pada saat duta besar negara lain tiba, dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan pada saat duta besar negara lain akan meninggalkan istana.


Larangan-larangan tertentu juga diatur dalam undang-undang pasal 64 berikut:


Setiap orang dilarang:

a. mengubah Lagu Kebangsaan dengan nada, irama, katakata, dan gubahan lain dengan maksud untuk menghina atau merendahkan kehormatan Lagu Kebangsaan;

b. memperdengarkan, menyanyikan, ataupun menyebarluaskan hasil ubahan Lagu Kebangsaan dengan maksud untuk tujuan komersial; atau

c. menggunakan Lagu Kebangsaan untuk iklan dengan maksud untuk tujuan komersial.


Nah, sudah jelas kan aturannya.


Jadi kalau misalnya kamu berniat meng-cover lagu IndonesiaRaya untuk keperluan pribadi atau kelompok, dipikir ulang, ya.





Taati ketentuannya dan jangan anggap remeh lagu kebangsaan kita ini.

Rabu, Juli 13, 2016

Air Mata Hilangnya Tujuh Kata Piagam Jakarta

Kasman Singodimedjo.
Oleh: M Akbar Wijaya
Wartawan Republika


Tahun-tahun berlalu. Namun sedih dalam benak Kasman Singodimedjo tak juga beranjak. Airmatanya menetes saban mengingat perannya menyetujui penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta pada pagi 18 Agustus 1945. “Saya lah yang ikut bertanggung jawab dalam masalah ini (menghapus tujuh kata Piagam Jakarta-red), dan semoga Allah mengampuni dosa saya,” kata Kasman seperti ditulis cendikiawan Muhammadiyah Lukman Harun dalam Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun. 

Menurut Lukman dalam sejumlah pertemuan Kasman kerap mengungkapkan kesedihan serupa. Kesedihan Kasman bukan tanpa alasan.

Pagi itu, Sabtu 18 Agustus 1945, usia republik belum genap sehari. Rencananya, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) akan bersidang dengan agenda mengesahkan UUD 1945, mengangkat presiden dan wakil presiden, serta mengangkat kepala daerah. Namun sidang yang dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB terpaksa molor beberapa jam. Sebab, ada persoalan sensitif dan krusial yang mesti segera diselesaikan lebih dahulu oleh sejumlah anggota PPKI. 

Persoalan itu ialah tuntutan menghapus tujuh kata  dalam Pembukaan UUD 1945 yang saat itu dikenal dengan istilah Piagam Jakarta. Tujuh kata dimaksud terdapat dalam kalimat: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Wakil Ketua PPKI, Mohammad Hatta mengungkapkan tuntutan tersebut datang kepadanya dari para pemuka agama Kristen dan Katolik di Indonesia Timur pada sore 17 Agustus 1945 melalui seorang opsir Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Pemuka agama Kristen dan Katolik menilai kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” bersifat diskriminatif terhadap kelompok non-Muslim. 

Bung Hatta yang termasuk perumus Piagam Jakarta di Panitia Sembilan menolak anggapan itu. Dia menjelaskan kalimat yang mewajibkan penerapan syariat Islam tidak bertujuan mendiskriminasikan kelompok minoritas. Sebab kalimat itu hanya berlaku bagi para pemeluk Islam. Apalagi, kalimat itu juga telah disetujui AA Maramis yang merepresentasikan kelompok non-Muslim di Panitia Sembilan.

“Aku mengatakan bahwa itu bukan diskriminasi, sebab penetapan itu hanya mengenai rakyat yang beragama Islam,” kenang Hatta dalam buku Di Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Namun penjelasan Bung Hatta tak  berbuah hasil. Opsir Kaigun memastikan para pemuka agama Kristen dan Protestan akan tetap bersikukuh meminta tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapus. Jika kalimat itu tetap dipertahankan, mereka mengancam Indonesia Timur tidak akan bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

Bung Hatta akhirnya mengalah dan berjanji akan membahas persoalan ini dalam sidang PPKI besok (18 Agustus 1945). Bung Hatta sadar jika republik yang baru diproklamasikan pecah, maka Belanda akan mudah kembali menjajah. “Kalau Indonesia pecah, pasti daerah di luar Jawa dan Sumatra akan dikuasai kembali oleh Belanda dengan menjalankan politik devide et impera, politik memecah dan menguasai,” kenang Hatta.

Esok paginya sebelum rapat PPKI dimulai, Bung Hatta mendiskusikan tuntutan para pemuka agama Kristen dan Katolik dari Indonesia Timur bersama sejumlah tokoh Islam. Mereka yang terlibat ialah Ki Bagus Hadikusumo, K.H Wachid Hasjim, Teuku M. Hasan, dan juga Kasman Singodimedjo.

Debat Sengit Menghapus Tujuh Kata Piagam Jakarta

Kasman menggambarkan sengit dan tegangnya suasana saat lobi di pagi itu. Menurutnya, semula tokoh-tokoh Islam sukar menerima tuntuntan para pemuka agama Katolik dan Kristen dari Indonesia Timur. Namun akhirnya mereka mengalah karena saat itu republik membutuhkan persatuan untuk mendapat dukungan dan simpati dunia.

Salah satu tokoh Islam yang saat itu paling bersikeras menolak penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta ialah Ketua Umum Muhammadiyah sekaligus anggota Panitia Sembilan Ki Bagus Hadikusumo.

Kasman mengatakan, pagi itu Sukarno yang merupakan Ketua PPKI memang sengaja memintanya bergabung sebagai anggota tambahan PPKI. Selain Kasman ada lima orang lain yang juga diminta Sukarno bergabung sebagai anggota tambahan PPKI. Mereka ialah: Wiranata Kusumah, Ki Hadjar Dewantara, Sayuti Melik, Mr Iwa Kusumasumantri, dan Mr. Ahmad Subarjo.

Namun Sukarno punya tugas khusus untuk Kasman yakni membujuk Ki Bagus Hadikusomo agar berkenang menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Sukarno percaya Kasman yang juga warga Muhammadiyah dapat melunakan pendirian Ki Bagus. Sebab lobi sejumlah tokoh Islam seperti K.H Wachid Hasjim, Teuku M.Hasan, hingga Bung Hatta tidak mampu melunakan pendirian Ki Bagus mempertahankan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Sukarno sendiri menurut Kasman tampak tidak ingin terlibat dalam proses lobi menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. “Mungkin karena beliau sebagai Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan terutama sebagai peserta dari Panitia Sembilan mengenai pembuatan Piagam Jakarta merasa agak kagok untuk menghadapi Ki Bagus Hadikusumo dan kawan-kawannya,” kata Kasman.

Mulanya Kasman keberatan  memenuhi permintaan Sukarno. Sebab tujuh kata dalam Piagam Jakarta merupakan hal prinsip bagi umat Islam dalam bernegara. Namun Kasman pun sadar situasi sangat mendesak. PPKI harus segera bersidang mengesahkan UUD 1945 dan memilih presiden dan wakil presiden. Jika terus berdebat, maka republik yang baru sehari diproklamasikan itu terancam bubar.

Dengan menggunakan Bahasa Jawa halus Kasman akhirnya berkenan membujuk Ki Bagus:

“Kiai, kemarin proklamasi kemerdekaan Indonesia telah terjadi. Hari ini harus cepat-cepat ditetapkan Undang-Undang Dasar sebagai dasar kita bernegara dan masih harus ditetapkan siapa presiden dan lain sebagainya untuk melancarkan perputaran roda pemerintahan. Kalau Bangsa Indonesia, terutama pemimpin-pemimpinnya cekcok, lantas bagaimana?! Kiai, sekarang ini Bangsa Indonesia kejepit di antara yang tongol-tongol dan tingil-tingil. Yang tongol-tongol itu ialah balatentara Dai Nippon yang masih berada di bumi Indonesia dengan persenjataan moderen. Adapun yang tingil-tingil adalah sekutu termasuk di dalamnya Belanda, yaitu dengan persenjataan yang moderen juga. Jika kita cekcok pasti kita akan konyol,” kata Kasman kepada Ki Bagus.

Kasman juga mengingatkan dalam Undang-Undang Dasar yang akan disahkan hari itu terdapat satu pasal yang menyatakan bahwa enam bulan lagi Majelis Permusyawaratan Rakyat akan melakukan penyempurnaan isi Undang-Undang Dasar. Sehingga tidak ada salahnya bagi umat Islam mengalah sementara menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi Indonesia merdeka yang berdaulat, adil, makmur, dan diridhai Allah SWT.

Mendengar penjelasan Kasman, Ki Bagus bersedia mengendurkan pendirian dan menerima usul penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Dan akhirnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu berganti menjadi kalimat: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

“Pada waktu itu kami dapat menginsyafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyap dengan menghilangkan perkataan ‘Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dan mengggantinya dengan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’,” kata Kasman.

Kendati begitu setelah enam bulan UUD 1945 disahkan, karena situasi republik yang tidak menentu akibat agresi militer Belanda, MPR tidak pernah bersidang untuk memperbaiki isi Pembukaan UUD 1945 sebagaimana aspirasi sejumlah tokoh Islam.

Kamis, Juni 16, 2016

VIDEO LANGKA - Belum Pernah Lihat Video Bung Hatta? Lihat Gaya Pidatonya di Belanda

SURYA.co.id - Anda pernah melihat video Drs Mohammad Hatta atau Bung Hatta (12 Agustus 1902 – 4 Maret 1980)? https://youtu.be/ZqzKOsBuUmo
https://www.youtube.com/watch?v=ZqzKOsBuUmo&feature=youtu.be


Arsip gambar idoep tentang Proklamator ini sangat jarang dibanding kolega sekaligus seterunya, Ir Soekarno atau Sukarno atau Bung Karno (6 Juni 1901 – 21 Juni 1970).


Bahkan, sejauh ini belum pernah terlihat video Bung Hatta dari koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang disebarkan melalui website-nya (ANRI.go.id) maupun digandakan oleh pihak lain.


Beruntung, lembaga di Belanda melalui Dutch Docu Channel di YouTube menyebarkannya sebagaimana terlihat dalam video di atas. Sebelum Internet marak sejak pertengahan 1990-an, videosemacam ini tergolong langka.


Video tersebut merekam peristiwa penting transfer of sovereignty over Indonesia 1949, "penyerahan kedaulatan" dariBelanda kepada Indonesia tahun 1949.


Bagi politisi dan akademisi Indonesia pasca Orde Lama, momen itu lebih sering disebut sebagai "pengakuan kedaulatan". Alasannya, tonggak kedaulatan sesungguhnya terjadi empat tahun sebelumnya, 17 Agustus 1945.


Video di atas menunjukkan pengakuan kedaulatan setelah melalui perundingan yang lazim disebut Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, 23 Agustus - 2 November, 1949.


Pihak Indonesia diwakili Bung Hatta, sedangkan Bung Karno saat itu memantau dari ibukota republik di Yogyakarta.


Selain Belanda, pihak yang terlibat perundingan adalahBijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) atau Badan Permusyawaratan Federal yang merupakan wadah negara-negara boneka berikut ini:


1. Negara Indonesia Timur pimpinan Tjokorda Gede Raka Sukawati

2. Negara Sumatera Timur pimpinan Dr Mansur

3. Negara Sumatera Selatan pimpinan Abdul Malik

4. Negara Jawa Timur pimpinan RT Kusumonegoro

5. Negara Pasundan pimpinan RAA Wiranata Kusumah

6. Negara Madura pimpinan Tjakraningrat


Lazim diketahui, KMB didahului dengan Perjanjian Linggarjati (1947), Perjanjian Renville (1948) dan Perjanjian Roem-van Roijen (1949).


Semua itu terjadi karena Belanda melancarkan Agresi Militer I dan II meski Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan.


Menghadapi hal itu, kubu Indonesia terpecah. Kubu Bung Karnodan Bung Hatta berusaha sekuat tenaga menempuh strategi diplomasi demi menghindari pertumbahan darah di kalangan rakyat yang baru merdeka.


Sementara, sebagian faksi angkatan perang atau tentara tidak tunduk pada pemimpin sipil. Mereka melawan Agresi Militer dengan bergerilya seperti kubu Jenderal Soedirman dan Tan Malaka.


Ternyata, urusan rumit itu bisa beres lewat diplomasi sebagaimana mencapai puncaknya dalam KMB.


Maka, Bung Hatta pun seperti terlihat mulai detik ke 2.25, mengucapkan kalimat secara datar dan tenang berikut ini:


Bangsa Indonesia dan Bangsa Belanda kedua-duanya akan memperoleh bahagianya, anak cucu kita, angkatan kemudian, akan berterima kasih kepada kita, moga-moga Tuhan yang Maha Kuasa memberkati pekerjaan kita pada Konferensi Meja Bundar ini.


Usai KMB itu, ibukota Indonesia pun kembali dari Yogyakarta ke Jakarta.


Dan, lihat video di bawah ini betapa rakyat Jakarta menyambut gegap gempita kehadiran kembali Bung Karno dan semua pemimpin republik.


Selain gaya orasi Bung Karno yang memukau, hal menarik darivideo di bawah ini adalah cara Bung Karno menyebut hasil KMB itu sebagai "penyerahan kedaulatan", bukan "pengakuan kedaulatan".


Bung Karno juga menyebut penyerahan kedaulatan itu sebagai hasil good will atau maksud yang baik, pengertian yang baik

Minggu, Maret 13, 2016

Pasca-Supersemar, Soekarno Tidak Sanggup Bayar Pengobatan Gigi

JAKARTA, KOMPAS.com -
Penulis : Indra Akuntono
Editor : Sandro Gatra
Kehidupan Presiden Soekarno pasca-terbitnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966 sangat memprihatinkan. Kekuasannya tergerus perlahan, kesulitan uang, membayar biaya pengobatan sakit gigi pun tak mampu.
Dalam buku "Memoar Sidarto Danusubroto Ajudan Bung Karno," Asvi Warman Adam menyebut bahwa perlakuan negara terhadap Soekarno setelah Presiden Soeharto berkuasa tidak terekspos oleh publik. Jarang sekali ada pemberitaan mengenai kehidupan Soekarno.

-/Arsip Kompas
Awal 1967, dokter pribadi Soekarno, dr Tan, meminta drg Oei Hong Kian datang ke Istana untuk mengobati Soekarno yang sedang sakit gigi.


Namun, peralatan pemeriksaan dan pengobatan gigi yang tersedia di Istana sudah ketinggalan zaman. Salah satunya adalah alat bor gigi yang tidak dilengkapi air pendingin.


Di saat bersamaan, pihak keamanan tidak mengizinkan Soekarno berobat di rumah sekaligus tempat praktik drg Oei di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Karena itu, drg Oei terpaksa membawa alat yang tersedia di tempat praktiknya ke Istana dengan menggunakan truk.


Soekarno memerlukan perawatan intensif sehingga drg Oei sering datang ke Istana untuk memeriksa dan memberikan pengobatan gigi.


Ketika Soekarno tinggal di Istana Bogor, pengobatan gigi ke tempat praktik drg Oei dilakukan dengan pengamanan ketat.


Soekarno turun dari mobil ketika sudah berada di dalam garasi. Soekarno juga meminta drg Oei untuk menjadikan tempat praktiknya sebagai lokasi pertemuan dengan anak-anaknya.


Untuk keluar dan masuk Jakarta-Bogor, Soekarno harus mendapatkan izin tertulis dari Pangdam Siliwangi dan Pangdam Jaya sesuai TAP MPR XXXIII/1967 yang melarang "sang proklamator" melakukan kegiatan politik sampai pemilihan umum yang akan datang. Pengurusan izin ini dilakukan oleh Sidarto selaku ajudan Soekarno.


Sekitar Maret 1968, drg Oei pindah ke Belanda. Sebelum berangkat, ia sudah siap memberi cor emas pada gigi Soekarno. Namun, tindakan itu batal terlaksana karena pengawasan terhadap Soekarno semakin diperketat.


Selama melakukan perawatan itu, drg Oei sama sekali tidak dibayar oleh pemerintah, apalagi oleh Soekarno yang sudah tidak memiliki uang.


Sejak awal 1968, seluruh aktivitas Soekarno makin dibatasi. Ia tinggal di paviliun Istana Bogor dan kemudian dipindahkan ke Hing Puri Bima Sakti di Batutulis Bogor.


Putri Soekarno, Rachmawati lalu menemui Soeharto di Cendana dan meminta ayahnya dipindahkan ke Jakarta. Soeharto mengizinkan, dan Soekarno kemudian tinggal di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala) Jakarta.


Pada saat itu, Soekarno masih terus diinterogasi oleh Kopkamtib. Pemeriksaan dan interogasi itu berhenti atas perintah Soeharto karena kesehatan Soekarno semakin memburuk.


Dalam buku yang ditulis Asvi, disebutkan bahwa Soekarno tidak pernah mendapat perawatan khusus selama tinggal di Wisma Yaso karena hanya ditangani oleh seorang dokter umum, dr Surojo.


Menurut Rachmawati, dr Surojo biasanya merawat hewan-hewan yang ada di Istana Merdeka.


Sewaktu menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, Soekarno dilarang dikunjungi masyarakat umum.


Pangdam Siliwangi saat itu, HR Dharsono juga mengeluarkan larangan untuk semua warga Jawa Barat mengunjungi dan dikunjungi Soekarno.


Soekarno meninggal dunia pada 21 Juni 1970 setelah beberapa hari dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Wisma Yaso menjadi tempat pembaringan Soekarno setelah meninggal dunia dan dilepas oleh Presiden Soeharto serta Ny Tien Soeharto.

Sabtu, Desember 05, 2015

14 Tahun diperjuangkan, Raja Badung akhirnya jadi pahlawan nasional

Reporter : Gede Nadi Jaya

I Gusti Ngurah Made Badung. ©2015 Merdeka.com
Merdeka.com - Selama 14 tahun lamanya keluarga Raja Badung di Puri Satria Denpasar mengajukan rajanya bernama I Gusti Ngurah Made Badung untuk dinobatkan sebagai pahlawan nasional asal Bali.

"Ini adalah sebuah kebanggaan dan penuh rasa bahagia karena leluhur kami yang berjuang dalam melawan penjajah akhirnya dinobatkan dan anugerahkan sebagai pahlawan nasional," ujar Cokorda Ratmada selaku keluarga Puri Satria yang juga sepupu dari Mentrri Koperasi dan UKM, Anak Agung Ngurah Puspayoga.

Penganugerahan ini dirayakan di halaman depan Pura Padarman Puri Satria, Sabtu malam (5/12) di Denpasar, Bali. Cok Ratmadi yang juga anggota DPD, mengaku sangat bangga dan haru yang akhirnya leluhurnya yang merupakan raja Badung ke-6 bisa dinobatkan sebagai pahlawan Nasional.

"Pesan beliau yang terus disampaikan kepada keturunannya adalah terus berjuang tanpa ada rasa takut dan lelah demi sebuah cita-cita bangsa," ungkapnya.

Mewakili pemerintah, hadir Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang hadir dalam membacakan penganugerahan pahlawan terhadap I Gusti Ngurah Made Agung. Ryamizard menjelaskan, raja ke 6 Raja Badung dianugerahi pahlawan nasional berdasarkan cerita-cerita dari berbagai sumber termasuk sumber kerajaan lain di Bali seperti Puri Satria, Puri Kesiman dan Puri Pemecutan.

Menurut Ryamizard, I Gusti Ngurah Made Agung dalam berjuang melawan penjajah tidak pernah gentar dan selalu menentang apa yang jadi kebijakan para penjajah untuk bernegosiasi. "Beliau selalu turun langsung dalam melawan dan mengusir penjajah. Hingga keberaniannya diikuti oleh raja-raja lain, dan tercetuslah perang Puputan Badung."

Hal senada juga dilontarkan, Ketua DPD RI, Irman Gusman. Bahwa perjuangan I Gusti Ngurah Made Agung patung jadi Kebanggaan masyarakat Bali. Semangat Puputan (perang habis habisan) melecut semangat ribuan rakyat Bali dari anak-anak hingga kakek nenek mengacungkan senjata mengorbankan nyawa melawan penjajah.

"Dengan dinobatkannya I Gusti Ngurah Made Agung sebagai pahlawan nasional, maka di Bali tercatat ada lima pahlawan yang masuk daftar pahlawan nasional. Di Indonesia ini hanya ada 168 yang tercatat sebagai pahlawan nasional. Itu sangat kecil sekali dilihat dari perjuangan putra putri bangsa dalam mengusir penjajah kala itu," ungkap Irman.

Irman menilai, perjuangan semangat Puputan Badung dari I Gusti Ngurah Made Agung pada tahun 1882-1886 hingga kini, masih terngiang di hati masyarakat Bali dengan mengenang hari Puputan Badung.

Dalam penganugerahan ini, hadir seluruh pejabat pemerintahan baik dari Petinggi Kodam IX Udayana dan Kapolda Bali. Hadir juga menteri agraria dan pertanahan, menteri Pemberdayaan perempuan dan anak, serta menteri koperasi dan UKM. Namun tidak tampak Gubernur Bali atau yang mewakili dari Pemerintahan Provinsi Bali.
[bal]

Minggu, November 22, 2015

Markas Gerakan Pramuka di Koningsplein Oost

Red: Maman Sudiaman
Markas gedung Pramuka di Koningsplein Oost.


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Inilah kediaman seorang pedagang kaya raya berkebangsaan Inggris di Koningsplein Oost (Jl Medan Merdeka Timur), diabadikan pada 1872. Pengusaha tersebut manajer sebuah perkebunan terkenal di Hindia Belanda bernama Montgomery Tannat Pryce kelahiran Wales, Inggris, 11 September 1819. Dia memilih tinggal di Batavia karena kakaknya, David Tannatt Pryce (1815-1892), telah bermukim di kota ini sejak September 1839.

Pada 1853, ia mendirikan perusahaan ‘’John Pryce & Co’’ bergerak di bidang perdagangan, pertokoan, dan penyuplai angkutan laut. Di kediamannya yang anggun ini, dia kerap mengadakan pesta-pesta bagi kalangan atas dengan dansa-dansi. Rumah yang memiliki halaman luas ini telah dibongkar dan kini ditempati oleh badan usaha pensiunan TNI-AD Yayasan Kartika Eka Paksi dan Kantor Pusat Gerakan Pramuka.

Dalam barisan gedung tersebut, kini terdapat Markas Kostrad dan Kantor Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Di Markas Kostrad inilah, Pak Harto selaku panglimanya menyusun strategi menghadapi G30S. Di sekitar Gedung Dirjen Perhubungan Laut inilah kira-kira tempat Nyai Dasima ketika masih menjadi gundik (nyai) tuan Willem juga berkebangsaan Inggris pada masa Pemerintahan Raffles (1811-1816).


Di antara gedung ini dan gereja Emanuel di depan stasiun Gambir, Jakarta Pusat, terletak Jl Pejambon. Di Pejambon, terdapat Taman Adipati yang disebut Herzogpark. Sebab, Herzog Bernhard von Sachen pernah tinggal di sini dalam Istana Kecil antara 1849- 1851 yang kini menjadi Gedung Pancasila. Adipati keturunan Jerman ini menjabat sebagai panglima Angkatan Bersenjata Hindia Belanda. Sebelumnya, ditempati seorang Tionghoa yang membuka pabrik gula.

Gedung Pancasila menjadi tempat sidang-sidang Volksraad (1916-1962). Di zaman Jepang dan menjelang proklamasi kemerdekaan, gedung tersebut menjadi tempat sidang Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia untuk menyiapkan UUD 45. Dalam Gedung Pancasila ini, Bung Karno pada 1 Juni 1945 berpidato yang melahirkan dasar negara Pancasila.

Warga Belanda pada awal abad ke-20 banyak yang tinggal di landhuis, rumah perkebunan sangat luas dengan tiang-tiang dan beranda depan yang di depannya terhampar taman dan sebuah jalan yang di kedua sisinya ditanami pohon-pohon hingga membuat suasana sejuk.

Jumat, November 13, 2015

Jenderal TNI ini sasaran pengadilan rakyat soal 65 di Belanda

Reporter : Yulistyo Pratomo

Poster pengadilan rakyat 1965 di Belanda. ©2015 Merdeka.com
Merdeka.com - Tragedi 1965 sudah berlalu. Pemerintah juga telah memutuskan untuk tak meminta maaf atas kasus pembunuhan, penyiksaan dan pelecehan seksual yang terjadi saat peristiwa tersebut berlangsung.

Penolakan pemerintah membuat korban-korban tragedi 1965 menggugat pemerintah. Meski demikian, pengadilan ini bukan sungguhan meski digelar di Den Haag, Belanda. Peradilan itu dilakukan untuk mendesak pemerintah mengusut kasus 1965.

Pengadilan tersebut digelar atas inisiatif dari International People's Tribunal (IPT). Sidang sudah berlangsung selama dua hari dan direncanakan bakal selesai hari ini, atau Sabtu (14/11) besok.

Tak banyak warga Indonesia masa kini tahu, selepas insiden penculikan enam jenderal Angkatan Darat pada 30 September 1965, paling tidak 1 juta orang dibunuh di Sumatera, Jawa, Bali, NTT; belasan ribu lainnya ditahan tanpa pengadilan. Ada pemenang sejarah, ada yang dinista. Publik Barat terkejut menyaksikan film dokumenter 'Jagal' (2013), ternyata di Indonesia terjadi genosida dan kejahatan politik tak kalah buruk dari ulah Nazi selama Perang Dunia II.

IPT digelar selama empat hari. Seluruh agenda kegiatan bisa disaksikan lewat sambungan internet di situs resmi mereka. Pada sidang pertama kemarin, fakta-fakta soal pembantaian massal 1965 diungkap. Saat berita ini dilansir, sidang fokus membahas penyiksaan tahanan politik terduga komunis dan kekerasan seksual bagi tapol perempuan.

Untuk hari ketiga dan keempat, topik yang dibahas penghilangan paksa terduga komunis dan keterlibatan negara lain dalam pembantaian massal itu. Negara-negara dinilai turut menanggung dosa itu adalah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Pemerintah RI, sebagai salah satu terdakwa, dituntut jaksa atas sembilan poin pelanggaran HAM berat.

"Kenapa kita semua berkumpul di sini? Jawabannya adalah kita ingin memperoleh kebenaran. Bangsa Indonesia ingin mencari kebenaran," kata Kepala Tim Jaksa, Todung Mulya Lubis.

Lalu, siapakah Jenderal yang menjadi sasaran pengadilan ini?

Pengadilan rakyat yang digelar International People Tribunal memang tak langsung menuntut para jenderal yang terlibat dalam peristiwa itu. Para jenderal yang terlibat juga sudah meninggal dunia.

Meski begitu, dari sejumlah jenderal, salah satu sasaran utamanya adalah Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo. Dia dianggap sebagai sosok yang paling bertanggung jawab atas tragedi yang memakan jutaan nyawa di Indonesia.

Setelah mengetahui pembunuhan terhadap sejumlah jenderal, Sarwo yang saat kejadian masih berpangkat Kolonel langsung menyatakan dukungannya kepada Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto. Dia pula yang langsung ditunjuk Soeharto untuk memimpin gerakan penumpasan.

Alasan Sarwo untuk terjun memimpin operasi dilakukan karena dia merasa marah atas tindakan G30S yang membunuh sahabat baiknya, Jenderal Ahmad Yani. Dia langsung memimpin Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD, sekarang Kopassus) bergerak ke daerah-daerah.

Lebih dari puluhan juta orang ditangkapi karena disinyalir PKI. Upaya pemberantasan melebar dari Pulau Jawa, Sumatera, Bali hingga Kalimantan. Saat memberikan laporan tanggung jawab, dia meyakini ada 3 juta orang yang menjadi korban.

Selain dia, masih ada Soeharto. Dia lah yang memberikan perintah untuk melaksanakan operasi penertiban dan penumpasan. Banyak yang meyakini Pak Harto adalah tokoh di balik G30S, namun tak banyak bukti yang bisa membuktikannya.

Setelah G30S berakhir, dia langsung naik ke dalam lingkaran kekuasaan. Dia yang ditunjuk Soekarno untuk melaksanakan operasi penertiban paska G30S oleh Soekarno.

Setelah operasi dinyatakan selesai, Soeharto lantas diangkat sebagai Presiden menggantikan Soekarno yang mulai sakit-sakitan.

Senin, Agustus 17, 2015

Kurir wanita ini jadi saksi Pertempuran Kemit di Gombong

Reporter : Siti Nur Azzura
Pahlawan wanita. ©2015 Merdeka.com
 Merdeka.com - Para pejuang bukan hanya orang-orang yang terjun langsung dalam suatu pertempuran, namun juga mereka yang turut membantu memperjuangkan kemerdekaan meski dengan melakukan hal-hal kecil. Bahkan dari hal kecil itu, bisa membawa perubahan yang besar.

Seperti yang dialami oleh Soepia Subito, seorang nenek yang pernah menjadi kurir wanita saat Pertempuran Kemit di Gombong, Jawa Tengah. Meski saat itu Soepia masih berusia 14 tahun, namun dia tetap berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Pada tahun 1947, Soepia mengikuti jejak kakaknya yang merupakan seorang kepala persenjataan di pasukan tentara republik. Sebagai kurir, dia bertugas mengantarkan surat dari komando pasukan ke tentara republik yang berada di wilayah kekuasaan Belanda.

"Kami jadi kurir dari daerah republik ke daerah Belanda, Belanda ke republik. Jadi setiap nyebrang di perbatasan ya digeledah. Ini udah perbatasan, kalau tentara kita mau gerilya saya disuruh bawa surat dari komando militer ke Gombong ke saudara yang ada di daerah Belanda. Mereka nanya gerilya lewat mana yang Belanda engga patroli ke daerah itu," kata Soepia saat perayaan Hari Veteran Nasional di gedung Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta Selatan, Selasa (11/8).

Agar lolos dari pemeriksaan, Soepia harus berpura-pura sebagai rakyat biasa yang hanya ingin melewati perbatasan untuk berjualan. Sementara itu, surat yang dia bawa akan disimpan rapi di bawah kaki rinjing bambu agar tidak terlihat oleh tentara Belanda.

"Saat masuk ke perbatasan pura-pura jual telur, jual kelapa. Nanti pulang pura-pura beli beras atau apa. Penampilannya seperti rakyat biasa," jelasnya.

Selain itu, wanita kelahiran Maret 1933 ini juga bertugas mengisi ulang persenjataan untuk para tentara saat pertempuran. Bahkan dia juga sering mengantarkan makanan dari markas kesatuan yang terletak di gunung, ke garis depan yang ada di perkampungan di daerah Kemit.

Sayangnya, Soepia tidak mendapat perbekalan ilmu untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Sehingga dia benar-benar harus mencari jalan sendiri ketika bertemu dengan musuh.

Jika ada pertempuran, Soepia hanya bisa tiarap agar tidak menjadi sasaran peluru. Sehingga dia harus melihat sendiri rakyat dan tentara yang gugur di medan perang.

"Belanda kan punya senjata sambil patroli ke kampung. Kalau mereka ketemu Belanda ya ditembak. kami kalau ada patroli itu hanya tiarap. Yang saya sedih itu waktu pasar candi, dari atas di bom, dari jauh ditembaki, tentara banyak yang mati, rakyat juga banyak yang mati dan saya lihat jenazah-jenazah itu," imbuh nenek usia 82 tahun itu.

Kini, Soepia tengah aktif menyebarkan semangat juang para wanita dari berbagai yayasan. "Kegiatan setiap hari saya banyak sekali di lokalisasi-lokalisasi, PKK dan biarawati. Di pelatihan pejuang 45 yang gedungnya di Gedung Joeang. Saya juga gabung ke veteran. Kami di biarawati juga masuk ke wanita pejuang tapi sekarang udah jadi yayasan," imbuhnya.

Dia berpesan, agar masyarakat Indonesia, terutama generasi muda bisa meneruskan semangat para pejuang untuk meraih kemerdekaan, salah satunya bebas dari korupsi dan narkoba. Sebab, hal itu akan merusak mental dan moral bangsa.

"Dulu kami yang berjuang tanpa ada keinginan apa-apa kecuali menang. Tapi para koruptor yang udah enak tapi malah merugikan bangsa," ungkapnya dengan mata yang berkaca-kaca

Minggu, Juli 05, 2015

Belajar Jujur dari Hoegeng

KOMPAS/Hendranto


JAKARTA, KOMPAS - Belajar dari masa lalu. Peristiwa itu terjadi tahun 1969. Sudah 46 tahun lalu! Harian Kompas, 2 Juli 1969, mengutip instruksi Kepala Kepolisian Negara RI Komisaris Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Bertepatan dengan Hari Bhayangkara, Kapolri Hoegeng memerintahkan kepala polda untuk mendaftarkan kekayaan semua unsur pimpinan Komando Keamanan Pelabuhan sebelum ataupun sesudah melakukan tugas pelabuhan.
Jika Hoegeng masih hidup, mungkin dia menangis melihat situasi saat ini. Seperti dituturkan dalam buku Hoegeng, Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa, Hoegeng pernah menulis memo kepada Kapolri Jenderal (Pol) Widodo Budidarmo pada 1977. Hoegeng menulis, "Wid, sekarang ini kok polisi kaya raya. Sampai-sampai ada yang punya rumah di Kemang. Dari mana duitnya?" "Sebagai mantan Kapolri, saya benar-benar prihatin dan malu dengan adanya kasus ini."
Sebagai sosok polisi yang jujur dan bersih serta menghindari konflik kepentingan, Hoegeng pernah meminta Merry, istrinya, menutup toko bunga yang baru dirintis. Hoegeng tak ingin ada konflik kepentingan. Sebagaimana ditulis Suhartono dalam buku Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan (2013), Hoegeng tidak ingin memanfaatkan posisi, kekuasaan, dan jabatannya sebagai Dirjen Imigrasi. Saat pemilik rumah sewaan tak mau dibayar rumah sewaannya, Hoegeng membayarnya dengan wesel pos.
Menurut cerita Aditya Soetanto Hoegeng (Didit), putra kedua Hoegeng, seperti dikisahkan dalam buku karya Suhartono, Hoegeng tidak pernah mau menerima gratifikasi dalam bentuk apa pun. "Saat melakukan kunjungan ke daerah, kadapol selalu memberikan bingkisan berupa makanan atau buah-buahan. Bingkisan itu sudah diletakkan di pesawat sebelum Papi naik. Namun, saat Papi melihat bingkisan itu, ia turun lagi dan meminta bingkisan itu diturunkan. Papi tak mau terbang sebelum barang tersebut disingkirkan dari pesawat," tutur Didit.
Instruksi Hoegeng yang mewajibkan pejabat menyerahkan laporan kekayaan 46 tahun lalu itu baru terwujud secara formal setelah era Reformasi melalui Tap MPR No XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN serta UU tentang Tindak Pidana Korupsi. Namun, Tap MPR dan UU itu pun sering dilanggar secara terbuka. Bahkan, ada pejabat yang berani terang-terangan menolak mengisi laporan kekayaan itu.
Betapa visionernya Hoegeng untuk mencegah korupsi di Indonesia. Ide pelaporan kekayaan bagi kepolisian datang dari Hoegeng sebagai instrumen untuk mencegah korupsi. Tajuk Rencana Kompas, 16 Juli 2004, menulis, "Benar Akan Berantas KKN? Belajarlah dari Hoegeng".
Ya, Hoegeng memang sosok jujur, bersih, berkarakter. Kapolri periode 1968-1971 itu pernah berkata, "Selesaikan tugas dengan kejujuran karena kita masih bisa makan dengan garam."
Karier Hoegeng, polisi yang jujur, bersih, dan punya prinsip itu, berakhir ketika dia mengundurkan diri sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971. Dia ditawari Presiden Soeharto untuk menjadi duta besar di Swedia ataupun Belgia, Belanda, dan Luksemburg. Namun, tawaran itu ditolak Hoegeng.
"Papimu ini seorang polisi dan harusnya ditugaskan sebagai polisi saja, bukan dubes. Untuk menjadi dubes harus seorang diplomat," ujar Didit menceritakan alasannya.
Kehidupan memang sudah berubah, tetapi kejujuran Hoegeng adalah sesuatu nilai yang seharusnya universal.
* Artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Juli 2015 dengan judul "Belajar Jujur dari Hoegeng".


Editor : Laksono Hari Wiwoho
Sumber: Harian Kompas

Selasa, Juni 02, 2015

Logo Garuda Pancasila diciptakan eks jenderal tentara Belanda

Reporter : Ramadhian Fadillah
Sultan Hamid II. ©2013 Merdeka.com
 Merdeka.com - Pancasila diagung-agungkan sebagai dasar negara Indonesia. Lambang burung Garuda dipasang di setiap ruang kelas dan institusi resmi. Tapi nama pembuat lambang Garuda Pancasila seolah dilupakan. Hanya segelintir orang yang mengenal Sutan Hamid Algadrie atau Sultan Hamid II sebagai pembuatnya. Hamid II malah lebih dikenal sebagai pemberontak.

Siapa Sultan Hamid II?

Sosoknya ganteng, tegap dan perlente. Di darahnya mengalir darah ningrat Kesultanan Pontianak. Dia satu dari sedikit orang pribumi yang bisa lulus Akademi Militer Belanda di Breda. Sultan Syarif Hamid Alqadri dilahirkan 12 Juli 1913. Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadri, Sultan keenam Pontianak.

Walau terlahir dari Kesultanan Islam, kehidupan Hamid Alqadri sepertinya lebih ke-Eropa-eropaan. Dia sempat masuk Technische Hooge School (THS). Tetapi dia akhirnya lebih memilih menjadi perwira tentara Belanda yang disebut Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Hamid muda memutuskan masuk ke Koninklijke Militaire Academie di Breda. Dia mengaku sangat tertarik dengan kehidupan militer.

Setelah lulus, Hamid menjadi Letnan II. Hamid juga menikah dengan wanita Belanda bernama Marie van Delden. Wanita yang dikenal dengan nama Dina Van Delden ini putri Kapten seorang tentara Belanda.

Masuknya Jepang, menghancurkan kekuatan Belanda di Nusantara. Hamid yang sempat berperang di Balikpapan ini kemudian dijebloskan Jepang ke penjara di Batavia. Dia ditahan dari tahun 1942-1945. Baru bebas setelah Jepang dikalahkan sekutu.

Hamid kembali menjadi tentara Belanda. Pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel, kemudian Jenderal Mayor. Mungkin dia pribumi dengan pangkat militer tertinggi. Tapi akhirnya dia melepaskan diri dari dinas militer dan memimpin rakyat Pontianak.

Diakui Hamid, sebuah keputusan yang berat meninggalkan dunia ketentaraan. Apalagi dia diangkat menjadi ajudan istimewa Ratu Belanda Wilhelmina.

Kemudian Sultan Hamid menjadi Ketua Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO). Forum negara-negara federal di Indonesia. Banyak pihak yang menganggap BFO adalah boneka Belanda, walau pendapat ini tak selamanya benar.

Saat Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, Hamid diangkat Soekarno untuk menjadi menteri negara. Tugasnya menyediakan gedung dan menciptakan lambang negara.

Hamid menyerahkan rancangannya. Wujud seorang manusia yang berkepala Garuda dan menggenggam perisai Pancasila. Itulah desain awal Pancasila. Soekarno kemudian memberikan beberapa usul, manusia Garuda diubah sepenuhnya menjadi burung garuda. Tapi saat itu burung garuda masih 'gundul' dan tidak berjambul.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut. Beberapa yang diperbaiki antara lain penambahan jambul pada kepala Garuda Pancasila. Selain itu mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita.

Banyak yang menduga Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat.

Karir politik Hamid sendiri berakhir tak lama berselang. Dia bersekutu dengan Westerling untuk menyerang sidang kabinet di Pejambon. Hamid memerintahkan Westerling membunuh menteri pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX , Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang dan Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo.

Percobaan pembunuhan itu gagal. Sultan Hamengkubuwono IX menangkap Sultan Hamid II. Dia diadili tahun 1953. Pembelaan dirinya ditolak. Pengadilan mengganjarnya dengan hukuman 10 tahun penjara atas kesalahan menggerakkan pemberontakan.

Nama Hamid pun dikenal sebagai pemberontak. Begitu yang tertulis di buku-buku sejarah. Jasanya menciptakan burung Garuda seolah dilupakan.

Kamis, April 23, 2015

Ini pidato lengkap Jokowi di KAA, sindir PBB hingga Bank Dunia

Jokowi di KTT Asia Afrika. ©2015 Merdeka.com
Merdeka.com - Pidato Presiden Joko Widodo saat membuka Konferensi Asia Afrika menyoroti kondisi global yang tidak seimbang. Jokowi menyinggung status Palestina yang hingga kini masih dijajah, peran Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang tidak berdaya, hingga ekonomi dunia yang dikuasai lembaga seperti Bank Dunia dan IMF.

Jokowi mengajak negara-negara di kawasan Asia dan Afrika mempererat kerja sama dan menciptakan tatanan dunia baru yang berdasarkan keadilan dan kesetaraan.

Berikut pidato lengkap Presiden Jokowi di depan para pemimpin negara Asia Afrika saat membuka KAA di Jakarta Convention Center, Rabu (22/4).

60 Tahun lalu, bapak bangsa kami, Presiden Soekarno, Bung Karno mencetuskan gagasan tersebut demi membangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia Afrika mendapatkan hak hidup yang menentang ketidakadilan, menentang imperialisme. 60 tahun lalu solidaritas kita perjuangkan untuk memberi keadilan bagi rakyat kita itulah semangat gelora KAA 1955. Itulah esensi dari semangat Dasa Sila Bandung

Kini 60 tahun kemudian kita bertemu kembali di negeri ini di Indonesia dengan suasana berbeda, bangsa-bangsa telah merdeka namun perjuangan kita belum selesai. Dunia yang kita warisi ini masih sarat dengan ketidakadilan dan kesenjangan. Cita-cita bersama mengenai tatanan dunia baru yang berdasarkan keadilan, kesetaraan masih jauh.

Ketidakseimbangan global masih terpampang. Ketika negara kaya yang hanya sekitar 20 persen penduduk dunia, mengkonsumsi sekitar 70 persen sumber daya dunia, maka ketidakseimbangan global tidak dapat dihindari.

Ketika banyak orang di belahan dunia sebelah utara (negara maju) menikmati hidup mewah, sementara 1,2 miliar negara di wilayah selatan (negara berkembang) hidup dalam kemiskinan dengan penghasilan kurang dari 2 dolar per hari, maka ketidakadilan global menjadi jelas.

Di saat sekelompok negara kaya mengatakan bisa mengubah dunia dengan niatnya sendiri, maka ketidakseimbangan global telah menghancurkan kita semua. semantara makin kuat terlihat bahwa PBB tidak bisa melakukan apa-apa.

Aksi-aksi kekerasan tanpa mandat PBB, telah memperlihatkan bahwa mengabaikan keberadaan organisasi internasional itu. Untuk itu kita sebagai negara Asia Afrika, mendesak dilakukannya reformasi PBB agar berfungsi sebagai organisasi dunia yang mendorong keadilan bagi sesemua bangsa.

Bagi saya ketidakseimbangan global semakin menyesakkan dada. Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina. Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina. Kita tidak boleh berpaling dari penderitan rakyat Palestina. Kita harus mendukung sebuah negara Palestina yang merdeka.

Ketidakadilan global juga tampak jelas ketika seklompok negara menolak perubahan realitas yang ada. Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya dapat diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF, dan ADB adalah pandangan yang usang dan perlu dibuang.

Saya berpendirian pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa diserahkan pada tiga lembaga keuangan itu. Kita mendesak reformasi arsitektur keuangan global. Saat ini butuh pimpinan global yang kolektif dan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru yang bangkit sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di muka bumi dan Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga di dunia siap memainkan peran global. Indonesia siap bekerjasama dengan berbagai pihak mewujudkan cita-cita itu.

Hari ini dan hari esok kita hadir di Jakarta menjawab ketidakadilan dan ketidakseimbangan itu. Hari ini dan hari esok dunia menanti langkah-langkah kita berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, kita bisa melakukan itu semua dengan membumikan semangat Bandung dengan mengacu pada tiga cita-cita.

Pertama kesejahteraan, kita harus mempererat kerjasama menghapuskan kemiskinan, mengembangankan kesehatan dan memperluas lapangan kerja. Kedua, solidaritas, kita harus tumbuh dan maju bersama dengan membangun kerjasama ekonomi, membantu menghubungkan konektivitas.

Ketiga, stabilitas internal dan eksternal kepada hak-hak asasi manusia. Kita harus bertanya apa yang salah dengan kita. Kita harus bekerjasa sama atasi ancaman kekerasan, pertikaian dan radikalisme seperti ISIS. Kita harus nyatakan perang terhadap narkoba yang menghancurkan masa depan anak-anak kita. OKI dan Indonesia memprakarsai pertemuan informal organisasi kerjasama Islam. Kita juga harus bekerja keras menciptakan.

Kita menuntut sengketa antarnegara tidak diselesaikan dengan penggunaan kekuatan dan kita rumuskan cara penyelesaiannya dalam sidang KAA ini.

Melalui forum ini saya ingin sampaikan keyakinan saya bahwa masa depan dunia ada di sekitar equator, di tangan kita bangsa Asia Afrika yang ada di dua benua.

Dengan mengucap Bismilahirrahmanirrahim, Konferensi Asia Afrika tahun 2015 dibuka.

Minggu, April 05, 2015

Begini Gaya Sukarno Muda, Suka Berhutang Makan

TEMPO.CO, Bandung - Sepulang kuliah teknik di kampus yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung, Sukarno kerap mampir ke Rumah Makan Madrawi di Jalan Dalem Kaum, Bandung. Di sana ia bersantap siang menu kesukaannya, seperti soto dan sate ayam 10 tusuk, gule serta rawon. Setelah makan, ia pulang dan meninggalkan hutang setalen atau 25 sen.

Itu salah satu kebiasaan Sukarno muda, yang kelak menjadi pemimpin dan Presiden pertama Republik Indonesia. Pemilik Rumah Makan Madrawi, kakak beradik Madrawi dan Badjuri tak resah. "Besoknya (hutang) langsung dibayar, jadi 50 sen," kata penerus restoran itu, Fadli Badjuri, 108 tahun, kepada Tempo.

Sekitar tengah hari, kata Fadli, karibnya itu sering datang untuk makan siang. Sepeda tunggangannya yang bermerek Hercules warna hijau, diparkir dekat jendela. Ia lalu mengambil tempat favoritnya, duduk di sudut kanan dekat jendela dari pintu masuk. Sukarno ke Bandung untuk kuliah pada 1920 dan lulus sebagai arsitek.

Rumah makan itu juga jadi tempat favorit Sukarno dan aktivis pergerakan seperti Sarekat Islam untuk rapat dan diskusi."Tempat kumpul membahas politik dan negara merdeka itu berada di ruangan khusus, di tengah agak ke belakang, bersekat lemari kaca. "Yang rapat biasanya 10-15 orang," kata Fadli, kelahiran 13 Maret 1907.

Saat itu, Fadli yang berusia belasan, seringnya hanya melayani Sukarno. Badjuri ayahnya, yang suka berbincang sebagainya sesama aktivis pergerakan. Sesekali Fadli berbincang sebentar dengan Sukarno. Pernah ia menyampaikan pemikirannya ke Fadli, "Orang-orang di luar kulit putih dianggap buta huruf, terutama orang Afrika," kata Sukarno muda.

Ketika Sukarno ditahan di penjara Jalan Banceuy pada 1929 dengan tuduhan ingin melawan pemerintah Belanda lewat Partai Nasional Indonesia, Fadli bersama Inggit Garnasih rutin mengantarkan makan siang Sukarno. Untuk makan malam, Fadli sendiri yang berangkat karena berbahaya buat Inggit.

Tokoh lain yang datang dan makan di Madrawi seperti Oto Iskandar Dinata, Mohamad Yamin, Roeslan Abdoelgani, Ali Sastroamodjojo, serta Muso, dan Kartosuwiryo. Rumah makan legendaris berukuran 15 x 20 meter persegi yang buka dari pukul 8 pagi hingga kadang pukul 3 dinihari itu kini tinggal sejarah.

Fadli menutup tempat usahanya pada 1987 ketika lahannya yang berstatus tanah wakaf milik Masjid Agung, dipakai untuk perluasan tempat ibadah. Lokasinya sekarang menjadi pelataran samping masjid di depan pos Satuan Polisi Pamong Praja Jalan Dalem Kaum.

ANWAR SISWADI

Jumat, April 03, 2015

Mobil kepresidenan Soekarno ternyata hasil curian

Reporter : Ramadhian Fadillah

Merdeka.com - Mobil dinas kepresidenan yang dipakai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah mobil Mercedes-Benz S600L model W221. Mobil keluaran tahun 2008 ini tahan peluru, canggih dan amat nyaman digunakan.

Bagaimana dengan mobil kepresidenan pertama yang digunakan Presiden RI pertama, Soekarno? Ternyata malah mobil curian!

Ceritanya saat itu Republik Indonesia baru diproklamasikan. Tapi belum ada mobil kepresidenan untuk Soekarno. Masa iya, Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia harus jalan kaki kemana-mana?

"Para pengikutku yang setia menganggap sudah seharusnya seorang presiden memiliki sebuah sedan mewah. Karena itu mereka mengusahakannya. Sudiro mengetahui ada sebuah Buick besar muat tujuh orang yang merupakan mobil paling bagus di Jakarta. Dengan gorden di jendela belakang."

"Sayang mobil ini milik Kepala Jawatan Kereta Api, seorang Jepang. Tetapi soal begini tidaklah membuat pusing Sudiro. Tanpa kuketahui, dia pergi mencari mobil itu dan menemukannya sedang diparkir di sebuah garasi," ujar Soekarno dalam biografi 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' yang ditulis Cindy Adams.

Sudiro yang mengenal supir itu langsung meminta sang supir menyerahkan kunci mobil Buick mewah tersebut. Sopir itu bertanya akan diapakan mobil tersebut.

"Saya bermaksud memberikannya kepada Presiden kita," balas Sudiro.

Sopir muda itu pun mengangguk setuju. Dia menyerahkan kunci mobil majikannya pada Sudiro. Sopir ini pun kemudian disuruh Sudiro pulang kampung agar tidak dicari majikannya.

Mobil sudah ada. Kunci pun sudah ada. Namun masalah belum selesai, Sudiro ternyata tak bisa menyetir mobil. Zaman itu memang sangat sedikit pribumi yang bisa menyetir mobil.

"Hanya beberapa di antara kami yang bisa. Orang pribumi tidak memiliki kendaraan di zaman Belanda dan hanya para pejabat yang diizinkan di zaman Jepang. Syukurlah, dengan pertolongan kawan Sudiro yang lain, seorang sopir pembesar Jepang, akhirnya mobil itu sampai ke rumahnya yang baru, di halaman belakang rumahku," jelas Soekarno.
[ian]

Senin, Februari 23, 2015

Kisah Supersemar dan Soekarno ngamuk di Istana Bogor

Reporter : Rahmat Hidayat
soekarno. ©2013 Merdeka.com
 Merdeka.com - Di balik kemegahannya, Istana Bogor menyimpan sejarah yang dramatis tentang sebuah perpindahan kekuasaan. Turunnya Surat Perintah 11 Maret atau yang dikenal dengan Supersemar menjadi titik balik berkuasanya Soeharto menggantikan Soekarno. Ada tiga jenderal yang ikut berperan mendalangi turunnya Supersemar. Siapa saja tiga jenderal tersebut? Bagaimana kisah dramatis yang terjadi di Istana Bogor waktu itu?

Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, waktu menunjukkan pukul 13.00 di Istana Bogor. Terdengar deru helikopter mendarat di lapangan istana. Ternyata tiga orang jenderal angkatan darat (AD) datang untuk menemui Soekarno. Ada yang mengatakan mereka datang mengendarai jeep yang dikemudikan oleh Brigjen Muhammad Jusuf yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Dua jenderal lainnya, yaitu Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi) dan Brigjen Amir Mahmud (Panglima Kodam Jaya).

Soekarno sedang istirahat saat trio jenderal datang. Hari itu memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Tidak seperti biasanya, dia datang ke Istana Bogor lebih awal. Soekarno pergi meninggalkan rapat kabinet di Jakarta menuju Bogor dengan tergesa-gesa. Brigjen Saboer, pengawal dan ajudan kepercayaan Soekarno, melaporkan adanya kericuhan dan pasukan liar mendekati istana. Padahal sebelumnya, Amir Mahmud yang dipercaya untuk mengamankan rapat, melaporkan situasi dalam kondisi aman.

Kejadian tersebut yang memunculkan inisiatif dari Basuki Rachmat dan Jusuf untuk menemui Soekarno di Bogor. Meskipun kedua menteri ini hadir dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, tapi mereka tidak tahu menahu mengenai laporan berbeda hingga memunculkan ketegangan antara Saboer dan Amir Mahmud. Sebelum berangkat ke Bogor, trio jenderal sempat menemui Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Waktu itu Soeharto yang telah diangkat Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, sedang dalam kondisi sakit. Soeharto kemudian mengizinkan ketiganya untuk menemui Soekarno dan menitipkan pesan, Saya bersedia memikul tanggungjawab apabila kewenangan untuk itu diberikan kepada saya untuk melaksanakan stabilitas keamanan dan politik berdasarkan Tritura.

Di balik kedatangan tiga jenderal itu ternyata ada maksud lain. Mereka meminta Soekarno agar memberikan kewenangan penuh kepada Soeharto untuk mengamankan kondisi negara. Berdasarkan pengakuan Lettu Sukardjo, pengawal presiden yang berjaga waktu itu, suasana nampak tegang. Antara tiga jenderal dan Soekarno terlibat adu argumen tentang isi surat kewenangan yang akan diberikan kepada Soeharto. Bahkan Sukardjo mengatakan sempat terjadi todong-todongan senjata antara dirinya dan trio jenderal.

Karena berbagai desakan yang muncul, akhirnya Soekarno menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Berbekal SP 11 Maret, Soeharto setapak melangkah lebih depan menuju kekuasaan. Dia tampil sebagai pahlawan kesaktian Pancasila yang telah membasmi bahaya komunis dari Tanah Air. Maka setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.

Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno. Salah satu dari trio jenderal itu diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.

Di balik itu semua, Istana Bogor telah menjadi saksi berbagai sejarah yang akan terekam di dinding-dinding bangunan megah itu sepanjang masa. Istana yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang singgah atau sekadar melihat rusa-rusa cantik di sana. Istana yang dibangun bukan hanya sebagai penghias kota Bogor. Tapi ia sebuah bangunan yang harusnya menyadarkan kita agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia.

Rabu, Januari 14, 2015

Soedirman, panglima teguh bermantel lusuh

Reporter : Ramadhian Fadillah Merdeka.com
Suatu malam di belantara Jawa tahun 1949. Soedirman terbatuk-batuk sepanjang malam dalam sebuah pondok reot di tengah hutan. Mantel lusuhnya tidak mampu menahan udara dingin malam itu. Paru-parunya terus digerus penyakit TBC yang makin parah. Di luar pondok, berjaga belasan pengawal Soedirman. Mereka tahu saat ini sang panglima menjadi buruan nomor satu pasukan baret merah Belanda, Korps Speciale Troepen (KST). Nyawa Soedirman dalam bahaya besar.

Tak ada pengawal Soedirman yang tidak meneteskan air mata. Betapa teguh hati jenderal bermantel lusuh yang sakit-sakitan itu.

Soedirman lahir tahun 1916 di Desa Bantarbarang, Purbalingga, Jawa Tengah. Awalnya Soedirman adalah guru di sekolah Muhammadiyah. Dia kemudian mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Soedirman menjadi Daidancho atau Komandan Batalyon di Kroya. Setelah kemerdekaan, Soedirman mendapat pangkat kolonel dan memimpin Divisi Y. Dia membawahi enam resimen di Jatiwangi, Cirebon, Tegal, Purwokerto, Purworedjo dan Cilacap.
Nama Soedirman bersinar saat pertempuran di Ambarawa. Dalam pertempuran yang terjadi tahun 1945 itu, Soedirman dan pasukannya berhasil memukul pasukan Inggris. Dalam sidang tentara, Soedirman kemudian terpilih menjadi panglima TNI. Soedirman memikul tanggung jawab besar. Mempertahankan kemerdekaan RI dari kemungkinan ancaman agresi militer Belanda.

Agresi Militer Balanda II tanggal 19 Desember 1948 sukses menduduki Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia. Gabungan pasukan baret hijau dan baret merah Belanda merebut Yogya hanya dalam hitungan jam. Mereka pun menangkap para pimpinan republik. Soekarno, Hatta, Sjahrir dan hampir seluruh pejabat negara saat itu.

Tapi Soedirman tidak mau menyerah. Dia menolak permintaan Soekarno untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Saat itu ada perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan pemimpin militer. Soedirman memilih masuk hutan. Memimpin pasukannya dari belantara hutan dan mengorbankan perlawanan semesta sesuai perintah siasat nomor satu. Soedirman memerintahkan seluruh prajurit TNI untuk membentuk kantong-kantong gerilya. Mundur dari daerah perkotaan yang dikuasai Belanda dan bersiap untuk bergerilya dalam waktu yang panjang.

Dimulailah perjalanan legenda itu. Panglima tertinggi TNI dengan paru-paru sebelah, dan tubuh sempoyongan bergerilya keluar masuk hutan. Mengorganisir anak buahnya dan membuktikan TNI masih ada. Ibukota negara boleh jatuh, presiden boleh ditawan, tapi TNI tidak pernah menyerah. Benteng terakhir republik ada dalam hati para prajurit.

Kondisi kesehatan Soedirman terus memburuk. Akhirnya dia terpaksa ditandu. Konon, setiap prajurit berebutan mengangkut tandu sang jenderal itu. Mereka semua merasa haru melihat sosok Pak Dirman.

Pasukan baret merah Belanda selalu gagal menangkap Soedirman. Berkali-kali pasukan kebanggaan Jenderal Spoor ini harus pulang dengan tangan hampa saat memburu Soedirman.

Perjuangan Soedirman tidak sia-sia. Berbagai serangan yang dilakukan TNI mampu mendesak Belanda duduk ke meja perundingan. Hingga akhirnya Belanda setuju untuk meninggalkan Yogyakarta.

Maka Soedirman kembali ke Yogyakarta. Resimen-resimen TNI berbaris menyambutnya. Lagi-lagi mereka tidak kuasa menahan haru melihat tubuh kurus yang berbalut mantel seperti milik petani itu. Para prajurit tahu hanya semangat yang membuat Pak Dirman tahan bergerilya berbulan-bulan.

Gerilya yang dilakukan Soedirman besar artinya untuk Republik Indonesia. Jika Soedirman tidak bergerilya dan melakukan serangan pada Belanda, maka dunia internasional akan percaya propaganda Belanda bahwa republik sudah hancur. Tanpa gerilya, Indonesia tidak akan mungkin punya suara dalam perundingan Internasional.

Di depan istana Presiden Yogyakarta, Soekarno merangkul Soedirman. Soekarno sempat mengulangi pelukannya karena saat pelukan pertama tidak ada yang memotret momen itu. Momen ini penting artinya, pertemuan keduanya seakan menghapus perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan militer.

Soedirman meninggal 29 Januari 1950. Saat merah putih sudah berkibar di seluruh pelosok nusantara, Soedirman tidak hidup cukup lama untuk melihat hasil perjuangannya.
 

Jumat, Desember 19, 2014

Kunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur Tinggalkan Jejak Sejarah Kelahiran Pancasila

PROKLAMATOR Kemerdekaan Soekarno pernah tinggal di Kabupaten Ende empat tahun. Rumah bersejarah itu kini terawat baik dan menjadi bangunan cagar budaya. Banyak peninggalan Bung Karno yang tersimpan di rumah tersebut.
Soekarno menjalani masa pengasingan di Kelurahan Kota Ratu, Kabupaten Ende, pada 1934–1938. Saat itu Bung Karno masih berusia 33 tahun.
Syafrudin menjelaskan artefak-artefak sejarah peninggalan Bung Karno selama menjalani pengasingan di Ende, NTT. Foto: Thoriq S. Karim/Jawa Pos/JPNN.com
”Cukup muda, tapi sudah menggemparkan dunia,” ujar Syafrudin Pua Ita, ahli waris pemilik rumah tersebut, ketika menemui Jawa Pos (induk JPNN.com) beberapa waktu lalu.
Bung Karno diasingkan setelah pemerintah Belanda menilai dia tidak mau diatur, bahkan menolak untuk tunduk. Bung Karno tiba di Ende pada 14 Januari 1934 dengan menggunakan kapal barang KM Van Riebeeck. Setelah berlayar delapan hari, dia bersama kerabatnya tinggal di rumah milik sahabatnya bernama Abdullah Ambuwaru.
Selama empat tahun, Bung Karno tinggal bersama Inggit Ganarsih, istrinya; Amsih, mertuanya; dan dua anak angkat Amsih yang bernama Ratna Juami dan Kartika.
Syafrudin menjelaskan, di kompleks rumah itu Bung Karno menghabiskan hari-harinya. Tapi, dia tidak mau tinggal diam. Banyak aktivitas yang dia lakukan. Mulai berdiskusi, merenung, hingga membuat tonil (semacam naskah drama).
"Tonil karya Bung Karno sering dipentaskan siswa sekolah di Ende," ujar Syafrudin.
Rumah tempat pengasingan Bung Karno itu terbilang amat sederhana. Sebagian besar dindingnya masih terbuat dari papan. Salah satu kamarnya bersambung dengan ruang tamu. Di kamar itulah Bung Karno bersama istri tidur.
Ada lagi satu ruang tamu tanpa meja kursi alias lesehan. Tempat itu semula sering dimanfaatkan para tokoh agama, seniman, tokoh masyarakat, dan tamu istimewa lainnya untuk berdiskusi secara lesehan.
Rumah tersebut juga mempunyai pekarangan yang cukup luas. Presiden pertama RI itu kerap menghabiskan waktu di pekarangan untuk bercocok tanam. Sampai sekarang beberapa tanaman peninggalan Bung Karno masih dibiarkan tumbuh di tempatnya. Salah satunya pohon kipi yang berada di sisi kiri rumah tersebut.
Mencapai rumah Bung Karno terbilang tidak susah. Dari Bandara Hasan Aroeboesman NTT, perjalanan tidak lebih dari 15 menit. Pengunjung dari luar bisa menggunakan jasa ojek atau travel resmi yang ada di bandara. Masyarakat di Ende umumnya sudah tahu lokasi rumah pengasingan Bung Karno yang bersejarah itu.
Selain bangunan yang masih terjaga baik, Bung Karno meninggalkan sejumlah artefak bernilai nominal tinggi. Di antaranya berupa perabotan rumah tangga, surat nikah, surat cerai, hingga biola kesayangan. Ada pula dua tongkat yang masing-masing punya ciri khas.
Tongkat dengan genggaman berbentuk monyet biasanya digunakan Bung Karno saat menemui perwakilan pemerintah Belanda. Itulah simbol penghinaan terhadap penjajah. Sedangkan satu tongkat lain memiliki genggaman polos.
"Bung Karno menggunakan tongkat ini ketika bertemu sahabatnya," ucap Syafrudin.
Selain rumah pengasingan, Kabupaten Ende kerap disebut sebagai Kampung Bung Karno. Banyak petilasan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Syafrudin memerinci, jejak sejarah keberadaan Bung Karno di Ende tersebut berupa taman perenungan, gedung pementasan tonil, tempat diskusi, dan sejumlah lokasi penting lainnya. Memang, selama dalam pengasingan, Bung Karno tidak boleh bepergian jauh. Aktivitas hidupnya dibatasi dalam radius 8 kilometer. Karena itu, ada tempat-tempat yang dulu sering dipakai Bung Karno untuk menghabiskan waktu selama di Ende.
Misalnya, setiap pagi ayahanda Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tersebut mesti melapor ke markas Belanda. Markas itu berlokasi di sebelah barat rumah pengasingan sang proklamator. Jaraknya sekitar 200 meter dari rumah Bung Karno dan hingga kini masih dimanfaatkan sebagai markas polisi militer.
Setelah wajib lapor, Bung Karno biasanya tidak langsung pulang. Dia mampir dulu ke taman, lalu duduk di bawah pohon sukun di sebelah barat markas Belanda tersebut. Sambil menikmati pemandangan laut yang terpampang di depannya, Bung Karno sering merenungkan berbagai hal di tempat itu. Terutama masa depan republik ini.
Salah satu renungan Bung Karno adalah kondisi sosial masyarakat di Ende. Sebab, ada keunikan yang muncul di permukaan. Yakni perkawinan campur antar pemeluk agama berbeda di daerah tersebut yang sampai sekarang masih terasa. Kawasan pesisir didominasi warga beragama Islam, sedangkan dataran tinggi didominasi warga beragama Katolik.
Nah, pernikahan di Ende tidak memandang perbedaan agama itu. Hebatnya, selama ini tidak pernah muncul konflik sebagai akibat perbedaan agama tersebut. Sebaliknya, agama bisa menjembatani ketika ada warga yang bertikai.
”Yang terpenting adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu ada,” tutur Syafrudin.
Hasil perenungan di Ende itulah yang kemudian disampaikan Bung Karno dalam pidato di Kongres Amerika Serikat. Isinya merupakan cikal bakal kelahiran dasar negara Pancasila. Soekarno menyatakan, ada lima prinsip hidup bagi warga Indonesia. Yakni kepercaya kepada Tuhan, nasionalisme, kemasyarakatan, demokrasi, dan keadilan sosial.
”Prinsip-prinsip itulah yang lalu disempurnakan menjadi dasar negara kita, Pancasila,” jelas Syafrudin.
Setelah melakukan perenungan di bawah pohon sukun, Bung Karno pulang ke rumah pengasingan bersama kawan-kawan simpatisannya dari berbagai kalangan. Ada tokoh agama, seniman, tokoh pendidikan, hingga warga Belanda yang bersimpati kepadanya. Tamu-tamu itu dijamu di ruang tamu yang kini menjadi tempat penyimpanan barang peninggalan Bung Karno.
Pada 1938 Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu. Dia meninggalkan banyak benda bersejarah selama empat tahun menjalani pengasingan di Ende. Yang kini sudah mengalami pemugaran menjadi bangunan cagar budaya.
Misalnya taman perenungan yang sekarang dihiasi patung besar Bung Karno duduk di bawah pohon sukun sambil menerawang jauh ke pantai. Lalu tempat pementasan tonil yang masih dalam pembangunan. Begitu juga makam ibu Amsih, mertua Bung Karno, yang juga dalam pemugaran.
”Pemugaran tempat-tempat petilasan Bung Karno itu merupakan proyek yang digagas mantan Wakil Presiden Boediono pada 2012. Pembiayaannya menggunakan APBN,” ungkap Syafrudin. (*/c10/c9/ari)

Minggu, Desember 07, 2014

Tentara Jepang Pamerkan Kisah Perjuangannya di Pantai Eretan Indramayu

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tentara Jepang yang pernah bertempur baik di Indonesia maupun di Filipina mulai 8 dan 9 Desember besok memamerkan dokumentasi catatan sejarah mereka dan foto-foto zaman dulunya di galeri Shichijodori Honcho, Higashiyama-ku, kota Kyoto.
Masayuki Nakano (80) putra sulung Yuichi Nakano (alm)
"Kami ingin agar generasi muda sekarang mengetahui sejarah yang sebenarnya di masa lalu sehingga dipamerkan kisah sejarah ini, catatan sejarah ini beserta foto zaman dulu saat perang," papar Masayuki Nakano (80) putra sulung almarhum Yuichi Nakano yang hidup antara tahun 1907-1991.
Dalam pameran rekam jejak oleh almarhum Nakano selama 77 tahun, almarhum menulis mengenai kisah perangnya di berbagai negara. Khusus di Indonesia terjadi di pantai Eretan Indramayu pulau Jawa. Tanggal 1 Maret 1942 Nakano menuliskan dia mendarat di pantai Eretan Indramayu.
"Saat mendarat di pantai Eretan terjadi pertempuran sangat sengit melawan tentara sekutu sehingga sekitar sepertiga tentara Jepang menjadi korban dan meninggal dunia," tulis buku harian tersebut.
Setelah itu Nakano sempat ditangkap dan di penjara di sana. Bulan Juli 1943 akhirnya Nakano berhasil pulang kembali ke kampung halamannya di Kyoto setelah dilepaskan dari penjara perang. Berarti Nakano berada di Indonesia sekitar 15 bulan saat perang dunia lampau.
"Saya senang sekali bisa kembali ke kediaman kampung halaman saya," tulis almarhum Nakano lagi yang menuliskan kisahnya pada kertas sepanjang 8 meter.
Masayuki sendiri melihat kisah ayahnya itu sangat patriotik sehingga meskipun perang telah berakhir sekitar 70 tahun lalu, Masayuki melihat perlunya kalangan muda saat ini mengetahui sejarah di masa lalu, "Kami ingin mereka yang muda datang ke sini merasakan jaman saat itu."
Berbagai tulisan harian pada kertas atau surat dipamerkan, beserta foto-foto jaman dulu dan juga bagde-badge atribut para tentara Jepang yang berjuang di masa perang dunia kedua lampau itu.
Galeri terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya apa pun bagi umum yang hadir ke sana.

Jumat, November 07, 2014

Mensos: Keluarga Pahlawan Nasional Dapat Tunjangan Tiap Bulan

Presiden Jokowi memberikan ucapan selamat kepada 4 pejuang penerima gelar Pahlawan Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (7/11). (Republika/Tahta Aidilla)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja memberikan gelar pahlawan nasional kepada empat tokoh yang telah berjasa pada bangsa dan negara. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, ada tunjangan yang diterima ahli waris pahlawan nasional.

"Untuk keluarga ada tanda penghormatan tiap bulan, ada uang kesehatan," ujarnya usai upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jumat (7/11). Meski demikian, Ketua Muslimat NU tersebut enggan menyebut berapa nilai tunjangan yang diterima ahli waris pahlawan nasional.

"Kalau disebut jumlahnya masih jauh dari yang semestinya kita bisa sampaikan," kata Khafifah.  Dia menjelaskan, empat tokoh yang mendapat gelar pahlawan nasional telah melalui proses panjang hingga akhirnya diberi gelar istimewa tersebut.
Mulai dari diajukan oleh pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, sampai di pemerintah pusat. Kemudian, setelah sampai di pemerintah pusat akan ada verifikasi data calon pahlawan nasional. Tak hanya itu, pemberian gelar pahlawan nasional juga harus melalui DPR. 

Berikut adalah empat tokoh yang menerima anugerah tersebut:
1. Alm Letjen TNI Djamin Ginting.

Pada tahun 1947, saat pasukan Belanda melancarkan Agresi Militer I, Djamin memimpin perlawanan di Front Tanah Karo seperti Sibolangit, Pancur Batu, Tuntungan, Merek dan Saribudolok. Selain itu, Djamin juga salah satu komandan pasukan Indonesia dalam pertempuran Medan Area melawan pasukan Inggris di Sumatera. Djamin juga pernah menjadi Duta Besar Luar Biasa RI di Kanada pada 1972 sampai ia wafat di tahun 1974.

2. Almarhum Sukarni Kartodiwirjo

Pria kelahiran Blitar, 14 Juli 1916 ini merupakan salah satu orang yang mendesak Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan membawa keduanya ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Setelah proklamasi, Sukarni menghimpun kekuatan pemuda mendukung pemerintah RI.

3. Almarhum K.H. Abdul Wahab Chasbullah

Tokoh agama dari Jombang, Jawa Timur ini merupakan salah satu tokoh yang merusmukan Resolusi Jihad sebagai dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan. Sebagai tokoh NU, Abdul Wahab juga pernah menghimpun dukungan Nahdliyin pada pemerintah Indonesia dalam memenangkan perang melawan Belanda.

4. Almarhum Jenderal Mayor Mohammad Mangoendiprojo

Pria kelahiran Sragen, 5 Januari 1905 ini merupakan salah seorang tokoh penggerak revolusi. Mohammad juga berjasa dalam mengambil alih aset pribadi orang-orang Belanda yang tersimpan di Bank Escompto senilai ratusan juta gulden. Uang tersebut kemudian digunakan untuk kepentingan perjuangan.